<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="168365">
 <titleInfo>
  <title>PENERIMAAN DIRI INDIVIDU BERTATO DI KOTA BANDA ACEH</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Syuraih Al Qadhi</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-Universitas Syiah Kuala</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Fenomena tato mengalami perkembangan yang signifikan di Kota Banda Aceh, ditandai dengan munculnya beberapa studio tato. Perkembangan ini terjadi di tengah masyarakat Banda Aceh yang memegang teguh nilai-nilai syariat Islam, sehingga memandang tato sebagai sesuatu yang tidak pantas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses penerimaan diri individu bertato di Kota Banda Aceh. Peneliti menggambarkan proses penerimaan diri individu bertato dalam konteks konstruksi sosial masyarakat Aceh yang bertolak belakang dengan fenomena tato. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Sebanyak lima informan diwawancarai melalui teknik wawancara semi-terstruktur. Proses penerimaan diri individu bertato dianalisis melalui kerangka teori Disonansi Kognitif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa individu bertato menghadapi disonansi yang muncul akibat stigma sosial, komentar negatif, dan pengalaman pengucilan. Untuk mengurangi disonansi, mereka menggunakan aspek  pengurangan disonansi, yaitu terpaan selektif, perhatian selektif, interpretasi selektif, dan retensi selektif. Penerimaan diri individu bertato merupakan proses bertahap yang melibatkan lima tahapan utama: penghindaran (aversion), rasa ingin tahu (curiosity), toleransi (tolerance), membiarkan (allowing), dan bersahabat (friendship). Tahapan-tahapan ini mencerminkan upaya individu untuk mengelola disonansi, mengubah persepsi diri, serta mencapai keseimbangan emosional. Penerimaan diri yang dicapai membantu mereka berdamai dengan diri sendiri, meningkatkan kepercayaan diri, dan memberikan motivasi untuk tetap mengejar tujuan hidup, meskipun berada di lingkungan yang kurang mendukung.&#13;
&#13;
Kata Kunci: Penerimaan Diri, Individu Bertato, Teori Disonansi Kognitif</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>168365</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-07-28 12:59:30</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-07-28 15:06:48</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>