<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="168163">
 <titleInfo>
  <title>PEMODELAN PREDIKSI KEJADIAN STUNTING PADA ANAK BALITA DI KABUPATEN PIDIE</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Putri Ilham Sari</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>kedokteran - Doktor ilmu kedokteran</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Dissertation</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>PEMODELAN PREDIKSI KEJADIAN STUNTING&#13;
PADA ANAK BALITA DI KABUPATEN PIDIE&#13;
&#13;
Putri Ilham Sari &#13;
&#13;
ABSTRAK&#13;
Latar Belakang. Stunting merupakan permasalahan kesehatan anak yang sangat kompleks. Stunting tidak hanya disebabkan oleh status gizi yang kurang, namun juga dapat disebabkan oleh konteks lainnya muali dari tingkat individu, rumah tangga dan masyarakat. Anak yang stunting merupakan hasil dari masalah gizi kronis sebagai akibat dari makanan yang tidak berkualitas, ditambah dengan morbiditas, penyakit infeksi, dan masalah lingkungan. Sehubungan dengan adanya penetapan lokus fokus intervensi mengenai pencegahan stunting berdasarkan Keputusan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional  tahun 2021 tentang Penetapan Perluasan Kabupaten/Kota Lokasi Fokus Intervensi, di Kabupaten Pidie terdapat 13 lokus kejadian stunting. Berdasarkan hasil survey data stunting yang telah peneliti dapatkan, maka peneliti memilih lima kecamatan yang menjadi lokasi khusus stunting di Kabupaten Pidie. Penelitian ini bertujuan untuk melihat determinan dari tiga faktor terhadap kejadian stunting dan menemukan pemodelan prediksi kejadian stunting di lima lokasi khusus Kabupaten Pidie. Metodelogi: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Structural Equation Modeling Partial Least Square dan Geographic Information Systems (SEM PLS-GIS) Instrumennya menggunakan kuesioner dengan teknik total sampling dari setiap kecamatan. adapun sampel dari kecamatan Tangse sebanyak 211, Tiro sebanyak 46, Kembang Tanjong sebanyak 321, Simpang Tiga 361 responden dan Mutiara Timur 49 responden. Hasil analisis SEM PLS  ditemukan bahwa kejadian stunting di Tangse sesuai dengan perpaduan dua model yaitu Consep Chilhood Stunting dan CSDH yakni faktor individu p value 0,000 dan masyarakat p value 0,006 semuanya memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kejadian stunting dengan nila R2 (79,1%) artinya pengaruh dari variabel etrsebuti sangat kuat. Di Tiro hasilnya sama dengan perpaduan dua konsep WHO dimana faktor individu p value 0,000 dan masyarakat p value 0,002 semuanya memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kejadian stunting dengan nila R2 (59,7%) pengaruhnya sedang. Sementara untuk tiga kecamatan lain yang di dataran rendah yaitu Mutiara Timur hanya faktor individu p value 0,000 yang signifikan terhadap kejadian stunting dengan nila R2 (18,6%), pengaruhnya lemah. Kecamatan Simpang Tiga hanya faktor individu p value 0,000, rumah tangga p value 0,000 keduanya signifikan terhadap kejadian stunting dengan nila R2 (83,5%) pengaruhnya sangat kuat. Kecamatan Kembang Tanjong faktor individu p value 0,000, rumah tangga p value 0,000 keduanya signifikan terhadap kejadian stunting dengan nila R2 (83,8%)pengaruhnya sangat kuat. Berdasarkan hasil Multi-Group Analysis (MGA) SEM PLS bahwa dari 5 kecamatan yang digunakan dalam menganalisis kasus stunting, maka diperoleh hasil prediksi pemodelan kejadian stunting dipengaruhi oleh variabel individu P value 0,001 dan masyarakat P value 0,000 secara signifikan di Kabupaten Pidie. Berdasarkan analisis MGA, model prediksi kejadian stunting di Kabupaten Pidie selaras dengan konsep Conceptual Childhood Stunting dan Conceptual Social Determinants of Health (CSDH). Besarnya pengaruh Nilai R Square (atau R²) menunjukkan di Kabupaten Pidie model prediksi yang mempengaruhi kejadian stunting yakni sebesar 0,732 sebesar 73,2% Berdasarkan analisis SEM GIS bahwa sebaran kasus tertinggi ada di kecamatan Kembang Tanjong sebanyak 184 kasus dan terendah di Kcamatan Tiro sebanyak 25 kasus. Kesimpulan. Prevalensi kasus stunting di Kabupaten Pidie terutama dipengaruhi oleh karakteristik individu dan masyarakat. Pemerintah Kabupaten Pidie harus melaksanakan intervensi pencegahan stunting yang disesuaikan dengan penyebab spesifik stunting di maisng-masing daerah untuk memastikan semua program intervensi secara efektif menyasar populasi yang tepat.&#13;
Kata Kunci: Pemodelan Stunting, Individu, Rumah Tangga, Masyarakat, Pidie&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>168163</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-07-28 10:23:22</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-07-28 11:10:14</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>