Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
THESES
PENERAPAN METODE NETWORK REAL-TIME KINEMATIC (N-RTK) DALAM EVALUASI PENETAPAN KAWASAN GAMBUT FUNGSI LINDUNG BERDASARKAN KEDALAMAN DAN POLA PENGUASAAN LAHAN DI KABUPATEN ACEH JAYA
Pengarang
Romi Mitrolia - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Sufardi - 196211171987021001 - Dosen Pembimbing I
Muhammad Rusdi - 197704012006041001 - Dosen Pembimbing II
Sugianto - 196502231992031003 - Penguji
Teti Arabia - 196109141986022001 - Penguji
Nomor Pokok Mahasiswa
2109200040001
Fakultas & Prodi
Fakultas Pasca Sarjana / Konservasi Sumber Daya Lahan (S2) / PDDIKTI : 54153
Subject
Kata Kunci
Penerbit
Banda Aceh : Fakultas Pasca Sarjana., 2025
Bahasa
No Classification
-
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
ABSTRAK
Ekosistem gambut memiliki peran krusial dalam mitigasi perubahan iklim dan keanekaragaman hayati, namun pengelolaannya menghadapi tantangan kompleks terkait pemetaan akurat dan isu penguasaan lahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi akurasi metode Network Real-Time Kinematic (N-RTK) berdasarkan kondisi jaringan telekomunikasi dan panjang baseline, serta menganalisis pola spasial kedalaman gambut dan penguasaan lahan di kawasan gambut fungsi lindung Aceh Jaya. Data akurasi N-RTK diperoleh dari survei lapangan menggunakan GNSS di berbagai kondisi jaringan 4G dan 3G dengan variasi panjang baseline. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akurasi N-RTK sangat dipengaruhi oleh kualitas jaringan dan panjang baseline; jaringan 4G secara konsisten memberikan akurasi sub meter yang tinggi, meskipun nilai CE90 cenderung menurun seiring bertambahnya jarak. Namun, penerapan N-RTK tidak dapat dilakukan sepenuhnya di seluruh area studi, dengan 166 titik uji (sekitar 25.11% dari total 661 titik) hanya dapat diukur menggunakan GPS handheld akibat keterbatasan akses jaringan seluler. Penggunaan GPS handheld ini menghasilkan akurasi yang jauh lebih rendah (CE90 sekitar 5.95 m), hanya sesuai untuk pemetaan skala umum. Analisis spasial kedalaman gambut dan penguasaan lahan lebih lanjut mengungkapkan bahwa mayoritas kawasan gambut, baik yang dalam maupun dangkal, telah berada dalam penguasaan formal masyarakat melalui Sertipikat Hak Atas Tanah (SHAT) yang seringkali telah ada secara historis sebelum penetapan fungsi lindung. Realitas ini menciptakan potensi konflik antara tujuan konservasi ekosistem gambut dan hak legal masyarakat. Oleh karena itu, penelitian ini menyimpulkan perlunya adopsi strategi akuisisi data geospasial hibrida yang fleksibel serta pendekatan kebijakan pengelolaan lahan gambut yang inklusif dan partisipatif, guna mencapai keseimbangan antara upaya konservasi dan keadilan sosial.
Kata Kunci : GNSS, Akurasi Geometri, Gambut, Penguasaan Lahan
ABSTRACT Peatland ecosystems play a crucial role in climate change mitigation and biodiversity, yet their management faces complex challenges related to accurate mapping and land tenure issues. This research aims to evaluate the accuracy of the Network Real-Time Kinematic (N-RTK) method based on telecommunication network conditions and baseline length, and to analyze the spatial patterns of peat depth and land tenure in protected peatland areas of Aceh Jaya. N-RTK accuracy data were obtained from field surveys using GNSS under various 4G and 3G network conditions with varying baseline lengths. The results show that N-RTK accuracy is highly influenced by network quality and baseline length; the 4G network consistently provides high sub-meter accuracy, although CE90 values tend to decrease with increasing distance. However, N-RTK implementation could not be fully achieved across the entire study area, with 166 test points (approximately 25.11% of a total of 661 points) only measurable using a handheld GPS due to limited cellular network access. The use of a handheld GPS resulted in significantly lower accuracy (CE90 around 5.95 m), suitable only for general scale mapping. Further spatial analysis of peat depth and land tenure revealed that the majority of peatland areas, both deep and shallow, are already under formal community control through Land Title Certificates (Sertipikat Hak Atas Tanah - SHAT) which often existed historically prior to the designation of protected functions. This reality creates potential conflicts between peatland ecosystem conservation goals and the legal rights of the community. Therefore, this research concludes the necessity of adopting flexible hybrid geospatial data acquisition strategies and inclusive, participatory peatland management policy approaches to achieve a balance between conservation efforts and social justice. Keywords: GNSS, Geometric Accuracy, Peatland, Land Tenure
ANALISIS KAWASAN BUDIDAYA BERDASARKAN TATA GUNA HUTAN KESEPAKATAN TERHADAP POLA RUANG DAN PENGGUNAAN LAHAN (RACHMATUL RIZKI, 2019)
PENCADANGAN DAN PELESTARIAN FUNGSI EKOSISTEM GAMBUT SEBAGAI UPAYA PEMELIHARAAN EKOSISTEM GAMBUT DI KABUPATEN NAGAN RAYA (Zulfikar Irhas, 2017)
PENDUGAAN CADANGAN KARBON PADA LAHAN GAMBUT DALAM DI DESA SUMBER BAKTI, KECAMATAN DARUL MAKMUR, KABUPATEN NAGAN RAYA (Raihan Shadrina, 2025)
PERILAKU MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN HUTAN LINDUNG SEBAGAI LAHAN PERKEBUNAN (STUDI KASUS DESA BLANGTEMUNG KECAMATAN DABUN GELANG KABUPATEN GAYO LUES). (MUSLIM, 2019)
PERUBAHAN BEBERAPA SIFAT FISIKA DAN KMIA GAMBUT JAMBO AYE SERTA PERTUMBUHAN TANAMAN KENAF AKIBAT PERLAKUAN BERBAGAI KEDALAMAN DRAINASE (Lilis Indriansyah, 2025)