EKSPLORASI KEANEKARAGAMAN UDANG AIR TAWAR LOKAL SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN BUDI DAYA BERKELANJUTAN DI PROVINSI ACEH | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    DISSERTATION

EKSPLORASI KEANEKARAGAMAN UDANG AIR TAWAR LOKAL SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN BUDI DAYA BERKELANJUTAN DI PROVINSI ACEH


Pengarang

Dedi Fazriansyah Putra - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Muhammadar - 197210061999031003 - Dosen Pembimbing I
Tongku Nizwan Siregar - 196909011994031003 - Dosen Pembimbing II



Nomor Pokok Mahasiswa

2209300070014

Fakultas & Prodi

Fakultas Pasca Sarjana / Doktor Matematika dan Aplikasi Sains (S3) / PDDIKTI : 44001

Penerbit

Banda Aceh : ., 2025

Bahasa

Indonesia

No Classification

639.975 388

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Udang air tawar (ordo Decapoda) merupakan komoditas perikanan penting yang memiliki nilai ekonomi dan ekologi tinggi, namun pengembangannya di Provinsi Aceh masih sangat minim meskipun wilayah ini kaya akan sumber daya air tawar. Udang air tawar dari genus Macrobrachium dan Caridina sangat berkontribusi dalam keseimbangan ekosistem perairan dan memiliki dampak ekonomi serta ekologi yang signifikan bagi manusia. Selain menjadi bagian dari rantai makanan dan pendukung keseimbangan ekosistem, udang air tawar juga berpotensi sebagai komoditas budi daya baik untuk konsumsi maupun hiasan. Data mengenai keanekaragaman, distribusi, dan status konservasi udang air tawar di Provinsi Aceh masih sangat terbatas, termasuk di wilayah kepulauan seperti Pulau Weh. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi spesies secara morfologi, mengevaluasi keanekaragaman udang air tawar, memetakan distribusi di seluruh habitat air tawar di Aceh, mengevaluasi status konservasi berdasarkan kriteria IUCN dan ancaman lokal (baik yang disebabkan oleh manusia maupun faktor lingkungan), serta mengidentifikasi spesies lokal yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai komoditas budi daya. Selain itu, penelitian ini juga merupakan riset pertama yang melaporkan secara komprehensif identifikasi udang, morfologi, keanekaragaman, dan aspek ekologi udang air tawar di Pulau Weh, Aceh. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode eksplorasi dengan purposived sampling di 14 kabupaten/kota dengan 26 titik sampling yang mencakup perairan lotik dan lentik seperti sungai dan danau, dari September 2022 hingga Januari 2024. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 1.340 spesimen udang berhasil dikumpulkan dan diidentifikasi menjadi 13 spesies dari genus Macrobrachium yaitu Macrobrachium australe Guérin-Méneville 1838, Macrobrachium equidens Dana 1852, Macrobrachium esculentum Thallwitz 1891, Macrobrachium idae Heller 1862, Macrobrachium latidactylus Thallwitz 1891, Macrobrachium lanatum Cai & Ng 2002, Macrobrachium lanchesteri De Man 1991, Macrobrachium lar Fabricius 1978, Macrobrachium mammilodactylus Thallwitz 1892, Macrobrachium neglectum De Man 1905, Macrobrachium pilimanus De Man 1879, Macrobrachium placidum De Man 1892 dan Macrobrachium scabriculum Heller 1862. Parameter lingkungan seperti kualitas air, suhu, pH, kecepatan arus, dan jenis substrat juga dicatat untuk mengetahui pengaruhnya terhadap distribusi dan kelimpahan spesies. Distribusi dianalisis menggunakan rumus distribusi lokal, sedangkan status konservasi dievaluasi berdasarkan pedoman Daftar Merah IUCN dan kebijakan konservasi regional. Hasil menunjukkan bahwa Macrobrachium lanchesteri merupakan spesies yang paling dominan dan tersebar luas, terutama di perairan tergenang (lentik), sedangkan spesies seperti M. pilimanus dan M. lar memiliki distribusi yang terbatas. Analisis morfometrik menunjukkan variasi ukuran antarspesies yang dipengaruhi beberapa faktor seperti jenis kelamin, umur dan lingkungan. Habitat perairan mengalir (lotik) cenderung menunjukkan keanekaragaman spesies yang lebih tinggi dibandingkan perairan tergenang. Meskipun sebagian besar spesies tergolong Least Concern menurut IUCN, tiga spesies yaitu M. australe, M. esculentum, dan M. mammilodactylus belum terdaftar dalam IUCN Red List, yang mengindikasikan perlunya kajian pengelolaan perikanan kerustasea lebih lanjut. Secara khusus, di Pulau Weh yang terkenal dengan kekayaan hayati lautnya, kajian terhadap sumber daya udang air tawar masih sangat terbatas. Sampling di tiga lokasi berbeda yaitu Sungai Pria Laot, Danau Aneuk Laot, dan Danau Paya Seunara mengidentifikasi empat spesies udang air tawar, yakni Macrobrachium lar, M. lanatum, M. lanchesteri, dan Caridina serratirostris. Sungai Pria Laot menunjukkan keanekaragaman spesies yang rendah dengan dominansi sedang dan keseragaman tinggi, sedangkan dua danau menunjukkan keanekaragaman dan keseragaman rendah namun dominansi tinggi oleh M. lanchesteri. Sementara merujuk kepada hasil identifikasi aspek potensi pengembangan budi daya dari genus Macrobrachium, evaluasi terhadap 13 spesies Macrobrachium di Aceh menunjukkan bahwa sebagian besar memiliki potensi budi daya rendah karena tipe reproduksi yang memerlukan salinitas tinggi dan fase larva yang panjang. Hanya M. lanchesteri yang menunjukkan potensi tinggi untuk budi daya air tawar karena siklus hidupnya dapat diselesaikan di air tawar dan didukung oleh konsumsi lokal. M. idae dinilai memiliki potensi sedang, sementara spesies lainnya masih memerlukan kajian lebih lanjut terkait aspek reproduksi dan toleransi lingkungan. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa Provinsi Aceh memiliki keanekaragaman udang air tawar yang tinggi dengan potensi untuk pengembangan budi daya dan konservasi, namun juga sangat rentan terhadap tekanan ekologis dan antropogenik. Langkah-langkah pengelolaan perikanan yang mendesak seperti perlindungan habitat, pengelolaan perikanan berkelanjutan, serta eksplorasi potensi budi daya yang ramah lingkungan sangat dibutuhkan. Kolaborasi antara masyarakat lokal, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya juga penting untuk memastikan pengelolaan sumber daya ini berjalan secara berkelanjutan sebagai warisan hayati bagi generasi mendatang.

Freshwater shrimp (order Decapoda) represent an important fishery commodity with high ecological and economic value. However, their development in Aceh Province remains minimal, despite the region’s rich freshwater resources. Species from the genera Macrobrachium and Caridina play a crucial role in maintaining aquatic ecosystem balance and contribute significantly to both ecological functions and human livelihoods. In addition to being integral components of food webs and ecosystem stability, freshwater shrimp also hold potential as aquaculture commodities, for both consumption and ornamental purposes. However, data on species diversity, distribution, and conservation status of freshwater shrimp in Aceh remain limited, particularly in island regions such as Weh Island. This study aims to morphologically identify freshwater shrimp species, assess their diversity, map their distribution across freshwater habitats in Aceh, evaluate their conservation status based on IUCN criteria and local threats (both anthropogenic and environmental), and identify local species with aquaculture potential. Furthermore, this is the first comprehensive study to report the taxonomy, morphology, diversity, and ecological aspects of freshwater shrimp on Weh Island. Sampling was conducted using an exploratory approach with purposive sampling across 14 districts/cities and 26 sampling sites, covering both lotic and lentic habitats (e.g., rivers and lakes), from September 2022 to January 2024. A total of 1,340 shrimp specimens were collected and identified, representing 13 Macrobrachium species: Macrobrachium australe Guérin-Méneville 1838, M. equidens Dana 1852, M. esculentum Thallwitz 1891, M. idae Heller 1862, M. latidactylus Thallwitz 1891, M. lanatum Cai & Ng 2002, M. lanchesteri De Man 1911, M. lar Fabricius 1798, M. mammilodactylus Thallwitz 1892, M. neglectum De Man 1905, M. pilimanus De Man 1879, M. placidum De Man 1892, and M. scabriculum Heller 1862. Environmental parameters such as water quality, temperature, pH, flow velocity, and substrate type were also recorded to assess their influence on species distribution and abundance. Distribution patterns were analyzed using a local distribution index, and conservation status was evaluated based on IUCN Red List criteria and regional conservation policies. Findings indicate that M. lanchesteri is the most dominant and widely distributed species, particularly in lentic (standing water) habitats, whereas species such as M. pilimanus and M. lar exhibited restricted distributions. Morphometric analyses revealed interspecific variation in body size, influenced by factors such as sex, age, and environment. Lotic (flowing water) systems showed higher species diversity than lentic habitats. While most species are currently classified as Least Concern by the IUCN, three species (M. australe, M. esculentum, and M. mammilodactylus) have not yet been evaluated, indicating the need for further taxonomic and conservation studies on freshwater crustaceans. Specifically, on Weh Island—known for its rich marine biodiversity—research on freshwater shrimp is still extremely limited. Sampling at three sites (Pria Laot River, Aneuk Laot Lake, and Paya Seunara Lake) identified four freshwater shrimp species: M. lar, M. lanatum, M. lanchesteri, and Caridina serratirostris. Pria Laot River exhibited low species diversity but moderate dominance and high evenness, while both lakes were dominated by M. lanchesteri, with low diversity and evenness. Regarding aquaculture potential, an evaluation of the 13 Macrobrachium species found in Aceh revealed that most species have low cultivation potential due to reproductive traits requiring high salinity and prolonged larval development. Only M. lanchesteri demonstrated high potential for freshwater aquaculture, as it completes its life cycle in freshwater and is widely consumed locally. M. idae is considered to have moderate potential due to the availability of relevant technical literature and its use in local consumption, although it still requires brackish conditions during larval stages. Other species require further research, particularly on reproductive biology and salinity tolerance, to assess their feasibility for sustainable aquaculture development. In conclusion, Aceh Province harbors high freshwater shrimp diversity with promising opportunities for conservation and aquaculture development. However, this biodiversity is highly vulnerable to ecological and anthropogenic pressures. Urgent management strategies such as habitat protection, sustainable fishery practices, and the development of environmentally friendly aquaculture systems are essential. Collaboration among local communities, government agencies, academia, and other stakeholders is crucial to ensure the long-term sustainability of freshwater shrimp resources as part of Aceh’s biological heritage for future generations.

Citation



    SERVICES DESK