<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="167955">
 <titleInfo>
  <title>EKSPLORASI KEANEKARAGAMAN UDANG AIR TAWAR LOKAL SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN BUDI DAYA BERKELANJUTAN DI PROVINSI ACEH</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Dedi Fazriansyah Putra</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher></publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Dissertation</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Udang air tawar (ordo Decapoda) merupakan komoditas perikanan penting yang memiliki nilai ekonomi dan ekologi tinggi, namun pengembangannya di Provinsi Aceh masih sangat minim meskipun wilayah ini kaya akan sumber daya air tawar. Udang air tawar dari genus Macrobrachium dan Caridina sangat berkontribusi dalam keseimbangan ekosistem perairan dan memiliki dampak ekonomi serta ekologi yang signifikan bagi manusia. Selain menjadi bagian dari rantai makanan dan pendukung keseimbangan ekosistem, udang air tawar juga berpotensi sebagai komoditas budi daya baik untuk konsumsi maupun hiasan. Data mengenai keanekaragaman, distribusi, dan status konservasi udang air tawar di Provinsi Aceh masih sangat terbatas, termasuk di wilayah kepulauan seperti Pulau Weh. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi spesies secara morfologi, mengevaluasi keanekaragaman udang air tawar, memetakan distribusi di seluruh habitat air tawar di Aceh, mengevaluasi status konservasi berdasarkan kriteria IUCN dan ancaman lokal (baik yang disebabkan oleh manusia maupun faktor lingkungan), serta mengidentifikasi spesies lokal yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai komoditas budi daya. Selain itu, penelitian ini juga merupakan riset pertama yang melaporkan secara komprehensif identifikasi udang, morfologi, keanekaragaman, dan aspek ekologi udang air tawar di Pulau Weh, Aceh. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode eksplorasi dengan purposived sampling di 14 kabupaten/kota dengan 26 titik sampling yang mencakup perairan lotik dan lentik seperti sungai dan danau, dari September 2022 hingga Januari 2024. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 1.340 spesimen udang berhasil dikumpulkan dan diidentifikasi menjadi 13 spesies dari genus Macrobrachium yaitu Macrobrachium australe Guérin-Méneville 1838, Macrobrachium equidens Dana 1852, Macrobrachium esculentum Thallwitz 1891, Macrobrachium idae Heller 1862, Macrobrachium latidactylus Thallwitz 1891, Macrobrachium lanatum Cai &amp; Ng 2002, Macrobrachium lanchesteri De Man 1991, Macrobrachium lar Fabricius 1978, Macrobrachium mammilodactylus Thallwitz 1892, Macrobrachium neglectum De Man 1905, Macrobrachium pilimanus De Man 1879, Macrobrachium placidum De Man 1892 dan Macrobrachium scabriculum Heller 1862. Parameter lingkungan seperti kualitas air, suhu, pH, kecepatan arus, dan jenis substrat juga dicatat untuk mengetahui pengaruhnya terhadap distribusi dan kelimpahan spesies. Distribusi dianalisis menggunakan rumus distribusi lokal, sedangkan status konservasi dievaluasi berdasarkan pedoman Daftar Merah IUCN dan kebijakan konservasi regional. Hasil menunjukkan bahwa Macrobrachium lanchesteri merupakan spesies yang paling dominan dan tersebar luas, terutama di perairan tergenang (lentik), sedangkan spesies seperti M. pilimanus dan M. lar memiliki distribusi yang terbatas. Analisis morfometrik menunjukkan variasi ukuran antarspesies yang dipengaruhi beberapa faktor seperti jenis kelamin, umur dan lingkungan. Habitat perairan mengalir (lotik) cenderung menunjukkan keanekaragaman spesies yang lebih tinggi dibandingkan perairan tergenang. Meskipun sebagian besar spesies tergolong Least Concern menurut IUCN, tiga spesies yaitu M. australe, M. esculentum, dan M. mammilodactylus belum terdaftar dalam IUCN Red List, yang mengindikasikan perlunya kajian pengelolaan perikanan kerustasea lebih lanjut. Secara khusus, di Pulau Weh yang terkenal dengan kekayaan hayati lautnya, kajian terhadap sumber daya udang air tawar masih sangat terbatas. Sampling di tiga lokasi berbeda yaitu Sungai Pria Laot, Danau Aneuk Laot, dan Danau Paya Seunara mengidentifikasi empat spesies udang air tawar, yakni Macrobrachium lar, M. lanatum, M. lanchesteri, dan Caridina serratirostris. Sungai Pria Laot menunjukkan keanekaragaman spesies yang rendah dengan dominansi sedang dan keseragaman tinggi, sedangkan dua danau menunjukkan keanekaragaman dan keseragaman rendah namun dominansi tinggi oleh M. lanchesteri. Sementara merujuk kepada hasil identifikasi aspek potensi pengembangan budi daya dari genus Macrobrachium, evaluasi terhadap 13 spesies Macrobrachium di Aceh menunjukkan bahwa sebagian besar memiliki potensi budi daya rendah karena tipe reproduksi yang memerlukan salinitas tinggi dan fase larva yang panjang. Hanya M. lanchesteri yang menunjukkan potensi tinggi untuk budi daya air tawar karena siklus hidupnya dapat diselesaikan di air tawar dan didukung oleh konsumsi lokal. M. idae dinilai memiliki potensi sedang, sementara spesies lainnya masih memerlukan kajian lebih lanjut terkait aspek reproduksi dan toleransi lingkungan. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa Provinsi Aceh memiliki keanekaragaman udang air tawar yang tinggi dengan potensi untuk pengembangan budi daya dan konservasi, namun juga sangat rentan terhadap tekanan ekologis dan antropogenik. Langkah-langkah pengelolaan perikanan yang mendesak seperti perlindungan habitat, pengelolaan perikanan berkelanjutan, serta eksplorasi potensi budi daya yang ramah lingkungan sangat dibutuhkan. Kolaborasi antara masyarakat lokal, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya juga penting untuk memastikan pengelolaan sumber daya ini berjalan secara berkelanjutan sebagai warisan hayati bagi generasi mendatang.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>AQUACULTURE</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>SHRIMPS - CONSERVATION TECHNOLOGY</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>DECAPODA (CRUSTACEANS) - CONSERVATION TECHNOLOGY</topic>
 </subject>
 <classification>639.975 388</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>167955</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-07-26 17:29:57</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-08-28 09:42:07</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>