<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="166953">
 <titleInfo>
  <title>KOMPOSISI DAN KELIMPAHAN SERANGGA PENYERBUK TANAMAN KOPI ARABIKA (COFFEA ARABICA L.) PADA KEBUN DENGAN DAN TANPA SISTEM INTEGRASI LEBAH MADU</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Mura Yani</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Pertanian</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Indonesia merupakan salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia, dimana Provinsi Aceh, khususnya Kabupaten Bener Meriah, dikenal sebagai sentra produksi kopi arabika (Coffea arabica). Untuk meningkatkan produktivitas kopi, salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah dengan memanfaatkan jasa layanan ekosistem berupa penyerbukan oleh serangga, terutama lebah madu. Sistem integrasi antara tanaman kopi dan budidaya lebah madu diyakini mampu meningkatkan keberagaman dan aktivitas serangga penyerbuk, serta memberikan kontribusi terhadap hasil panen kopi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi dan kelimpahan serangga penyerbuk pada dua tipe kebun kopi yang berbeda, yaitu kebun yang menggunakan sistem integrasi lebah dan kebun tanpa sistem integrasi lebah madu. &#13;
	Penelitian dilaksanakan pada bulan November hingga Maret 2025 di Desa Tingkem Bersatu (integrasi lebah) dan Desa Rembele (tanpa integrasi lebah), Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah. Sampel serangga penyerbuk dikumpulkan dari 100 tanaman kopi secara diagonal menggunakan jaring serangga, kemudian diidentifikasi secara morfologi di Laboratorium Pengendalian Hayati Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala. Pengamatan dilakukan  terhadap (i) persentase tanaman yang dikunjungi serangga penyerbuk, (ii) komposisi serangga penyerbuk, (iii) kelimpahan individu serangga penyerbuk, (iv) indeks diversitas serangga penyerbuk, (v) indeks kemerataan serangga penyerbuk, (vi) indeks dominansi serangga penyerbuk, (vii) indeks similaritas serangga penyerbuk. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji t. untuk menbandingkan setiap parameter antara kedua tipe kebun kopi.&#13;
	Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah spesies serangga penyerbuk pada kebun dengan sistem integrasi dijumpai sebanyak 20 spesies, sedangkan pada kebun tanpa sistem integrasi lebah madu dijumpai sebanyak 13 spesies serangga penyerbuk. Persentase tanaman yang dikunjungi serangga penyerbuk pada kebun kopi dengan dan tanpa sistem integrasi lebah madu tidak berbeda nyata (P=0,47 df=8 t=0,75), nilai rata-rata pada kedua tipe kebun yang berbeda yaitu 82% (sistem integrasi lebah) dan 78% (tanpa sistem integrasi). Kelimpahan serangga penyerbuk sangat berbeda nyata antara kedua tipe kebun (P=0,008 df=8 t=3,47), nilai rata-ratanya yaitu (44,2 dan 26,6). Indeks diversitas serangga penyerbuk pada kebun kopi dengan dan tanpa sistem integrasi lebah madu berbeda nyata (P=0,03 t=2,58 df=8), rata-rata nilainya yaitu (0,3 dan 0,2). Indeks kemerataan serangga penyerbuk pada kebun kopi dengan dan tanpa sistem integrasi lebah madu tidak berbeda nyata (P=0,09 t=1,9 df=8), rata-rata nilainya yaitu (0,15 dan 0,09). Indeks dominansi serangga penyerbuk pada perkebunan kopi sistem integrasi dan tanpa sistem integrasi tidak berbeda nyata (P=0,83 t=-0,21 df=8), rata-rata nilainya yaitu (0,38 dan 0,39) Sementara itu, nilai indeks similaritas antara kedua tipe kebun tergolong sedang (IS=0,54), yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan komposisi spesies serangga penyerbuk. &#13;
	Sistem integrasi lebah madu dapat meningkatkan komposisi dan kelimpahan serangga penyerbuk pada tanaman kopi arabika. Hal ini menunjukkan bahwa kehadiran lebah madu tidak hanya memberikan kontribusi langsung terhadap penyerbukan, tetapi juga menciptakan lingkungan agroekosistem yang lebih mendukung keanekaragaman hayati. Oleh karena itu, sistem integrasi lebah madu direkomendasikan sebagai strategi pengelolaan pertanian berkelanjutan dalam budidaya kopi arabika di Kabupaten Bener Meriah.&#13;
&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>166953</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-07-24 22:59:47</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-07-25 09:01:50</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>