<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="166627">
 <titleInfo>
  <title></title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>WIDYA ANDRIANI</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-Universitas Syiah Kuala</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Penanggulangan HIV/AIDS di Kota Banda Aceh merupakan tantangan kompleks yang melibatkan berbagai aktor dengan kepentingan beragam. Permasalahan utama mencakup tingginya stigma terhadap ODHA (Orang dengan HIV/AIDS), lemahnya koordinasi antar lembaga, serta rendahnya partisipasi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan dan faktor penghambat dalam penanggulangan HIV/AIDS di Banda Aceh dengan menggunakan konsep adaptive governance, yang mencakup empat indikator utama: kolaborasi, koordinasi, pengembangan kapasitas, dan pembangunan modal sosial.Penelitian ini dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil menunjukkan bahwa dalam aspek kolaborasi, telah terbentuk kerja sama antara pemerintah, LSM, KPA, tokoh agama, dan komunitas, meski belum merata. Pada aspek koordinasi, sudah ada mekanisme lintas sektor, namun masih ditemukan tumpang tindih program. Pengembangan kapasitas telah dilakukan melalui pelatihan tenaga kesehatan dan relawan, namun belum menjangkau masyarakat secara luas. Sementara itu, upaya membangun modal sosial seperti membangun kepercayaan dan solidaritas masih terhambat oleh kuatnya stigma sosial terhadap ODHA. Strategi adaptive governance seperti komunikasi partisipatif, keterbukaan informasi, dan fleksibilitas kebijakan menjadi kunci untuk menciptakan penanggulangan yang inklusif. Hambatan yang dihadapi mencakup mobilitas penduduk dari luar daerah, pandangan negatif masyarakat, serta keterbatasan infrastruktur dan SDM terlatih. Oleh karena itu, disarankan agar Dinas Kesehatan meningkatkan edukasi publik, memperkuat koordinasi lintas sektor, melibatkan masyarakat sejak tahap perencanaan, dan membangun jejaring sosial yang solid. Pemerintah juga perlu meningkatkan dukungan kebijakan, sementara masyarakat diajak untuk menghilangkan stigma dan bersama melawan HIV/AIDS secara adil, efektif, dan berkelanjutan.&#13;
&#13;
Kata Kunci: Adaptive Governance, HIV/AIDS, Kolaborasi, Koordinasi, Kapasitas, Modal Sosial, Banda Aceh&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>166627</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-07-24 15:09:43</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-07-24 15:22:23</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>