FENOLOGI POHON PAKAN ORANGUTAN SUMATERA (PONGO ABELII) DI STASIUN PENELITIAN KETAMBE, TAMAN NASIONAL GUNUNG LEUSER, ACEH TENGGARA | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

FENOLOGI POHON PAKAN ORANGUTAN SUMATERA (PONGO ABELII) DI STASIUN PENELITIAN KETAMBE, TAMAN NASIONAL GUNUNG LEUSER, ACEH TENGGARA


Pengarang

MELINDA BR SEMBIRING - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Dalil Sutekad - 197008172000031014 - Dosen Pembimbing I
Durrah Hayati - 199106122022032010 - Dosen Pembimbing II



Nomor Pokok Mahasiswa

2105110010051

Fakultas & Prodi

Fakultas Pertanian / Kehutanan (S1) / PDDIKTI : 54251

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Pertanian., 2025

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Fenologi merupakan ilmu yang mempelajari fase-fase alami pada tumbuhan seperti, pertunasan, pembungaan, dan pembuahan yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan seperti suhu, kelembapan, dan curah hujan. Pemahaman terhadap fenologi sangat penting dalam konservasi orangutan sumatera (Pongo abelii), karena perubahan pada fase tumbuhan berdampak langsung pada ketersediaan pakan utama satwa terutama ketersediaan buah-buahan. Orangutan sebagai satwa arboreal dan frugivora sangat bergantung pada pohon pakan dan memiliki kebiasaan berpindah mengikuti ketersediaan pakan di habitat alaminya. Penelitian ini dilakukan di Stasiun Penelitian Ketambe yang merupakan habitat penting bagi orangutan sumatera dan memiliki karakteristik hutan hujan tropis dengan pola musim bimodal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis pohon pakan orangutan sumatera dan mendeskripsikan fase fenologi pohon pakannya. Metode yang digunakan adalah exploratif dan teknik pengumpulan data menggunakan metode line transect di mana peneliti berjalan sepanjang garis transek. Transek yang digunakan berupa jalur trecking yang sudah tersedia dan objek yang diamati yaitu berupa pohon pakan orangutan sumatera yang memiliki diameter lebih atau sama dengan 20 cm. Pengamatan ini dilakukan satu jalur per hari. Jalur yang ditempuh berdasarkan waktu pengamatan yaitu dimulai dari pukul 08.00 WIB-17.00 WIB. Jalur yang diamati sebanyak 6 jalur dengan lebar transek kiri dan kanan 10 meter. Pengamatan fase fenologi berupa daun muda (DM), daun tua (DT), berbunga (BG), buah muda (BM) dan buah tua (BT) dan diambil titik koordinat pohon pakan tersebut menggunakan GPS. Pengukuran faktor lingkungan seperti suhu, intensitas cahaya, kelembapan dan ketinggian tempat dilakukan berdasarkan waktu yang sudah ditentukan yaitu pada pagi hari dan sore hari. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan tabel, grafik dan gambar. Hasil penelitian ditemukan 1.015 pohon pakan yang terdiri dari 38 famili, 64 genus dan 91 spesies pohon pakan. Famili yang paling banyak ditemui ialah famili Euphorbiaceae (12%), sebanyak 11 jenis pohon pakan. Namun, Aglaia macrocarpa merupakan spesies yang paling banyak ditemukan (125 individu) dengan persentase 12% dari famili Meliaceae. Bagian yang paling banyak dikonsumsi orangutan sumatera adalah buah dengan jumlah 945 individu pohon (80%), kambium 132 individu pohon (11%), bunga sebanyak 72 individu (6%), tunas muda sebanyak 23 individu (2%) dan daun muda 16 individu (1%). Jalur yang memiliki jarak tempuh terjauh adalah jalur 5 (7,36 km) yang tercatat sebanyak 210 individu pohon dari 50 spesies. Pada saat pengamatan fase fenologi didominansi oleh DT (63,3%-994 individu pohon), DM (20,3%-321 individu pohon), BG (14%-223 individu pohon), BM (2,2%-36 individu pohon) dan paling sedikit BT (0,3%-4 individu pohon) yang ditandai dengan minimnya bertemu orangutan secara langsung saat pengamatan. Rata-rata diameter jenis pohon pakan orangutan yang paling kecil adalah Clerodedendrum sp. sebesar 20,70 cm dan diameter paling besar adalah Bombax valetonii sebesar 230,10 cm. Suhu paling rendah di Stasiun Penelitian Ketambe sebesar 21,7℃ dan paling tinggi adalah 30,6℃. Kelembapan paling rendah 72% dan kelembapan paling tinggi 92%. Hasil uji korelasi Spearman’s rho dan Kendall’s tau menunjukkan kelembapan memiliki hubungan negatif yang sangat kuat dan signifikan terhadap fase DT (ρ = -0,928; p = 0,008 dan τ = -0,828; p = 0,022), sedangkan intensitas cahaya berhubungan positif signifikan dengan fase BT (ρ = 0,926; p = 0,008 dan τ = 0,856; p = 0,024). Hubungan signifikan ini mengindikasikan bahwa kelembapan tinggi menurunkan kecenderungan fase DT, sementara intensitas cahaya tinggi meningkatkan kecenderungan fase BT.

Phenology is the study of natural phases in plants such as sprouting, flowering, and fruiting, which are influenced by environmental conditions including temperature, humidity, and rainfall. Understanding phenology is essential for the conservation of the Sumatran orangutan (Pongo abelii), as changes in plant phases directly impact the availability of key food sources, particularly fruits. As an arboreal and frugivorous species, orangutans rely heavily on food trees and exhibit movement patterns based on food availability in their natural habitat. This study was conducted at the Ketambe Research Station, a crucial habitat for the Sumatran orangutan, characterized by tropical rainforest conditions and a bimodal seasonal pattern. The objective of this research was to identify food tree species consumed by Sumatran orangutans and to describe the phenological phases of these food trees. An exploratory method was used, with data collected using the line transect technique, in which the researcher walked along predetermined trekking paths. Trees observed were those with a diameter equal to or greater than 20 cm. Observations were conducted on one transect per day, from 08:00 to 17:00 WIB, across six transects with a 10-meter width on either side of the path. Phenological observations included young leaves (YL), mature leaves (ML), flowering (FL), young fruits (YF), and mature fruits (MF). The coordinates of each food tree were recorded using GPS. Environmental factors such as temperature, light intensity, humidity, and elevation were measured in both the morning and afternoon. Data were analyzed qualitatively and descriptively through tables, graphs, and images. The results showed a total of 1,015 food trees, consisting of 38 families, 64 genera, and 91 species. The most frequently encountered family was Euphorbiaceae (12%), comprising 11 species. However, Aglaia macrocarpa from the Meliaceae family was the most commonly found species, with 125 individuals (12%). The most consumed part by orangutans was fruit (945 individuals or 80%), followed by cambium (132 trees or 11%), flowers (72 trees or 6%), young shoots (23 trees or 2%), and young leaves (16 trees or 1%). The longest transect was Transect 5 (7.36 km), with 210 food trees from 50 species. During phenological observations, the dominant phases were mature leaves (ML) at 63.3% (994 trees), young leaves (YL) at 20.3% (321 trees), flowering (FL) at 14% (223 trees), young fruits (YF) at 2.2% (36 trees), and mature fruits (MF) at only 0.3% (4 trees). This low percentage of mature fruits coincided with few direct orangutan sightings during the study. The smallest average diameter of food trees was Clerodendrum sp. at 20.70 cm, while the largest was Bombax valetonii at 230.10 cm. The lowest recorded temperature at the research station was 21.7℃ and the highest was 30.6℃. Humidity ranged from 72% to 92%. Spearman’s rho and Kendall’s tau correlation tests showed that humidity had a very strong and significant negative correlation with the mature leaves phase (ρ = -0.928; p = 0.008 and τ = -0.828; p = 0.022). Meanwhile, light intensity showed a significant positive correlation with the mature fruits phase (ρ = 0.926; p = 0.008 and τ = 0.856; p = 0.024). These significant relationships suggest that high humidity decreases the likelihood of the mature leaves phase, whereas high light intensity increases the likelihood of the mature fruits phase.

Citation



    SERVICES DESK