<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="166121">
 <titleInfo>
  <title>IDENTIFIKASI KERAGAMAN GENETIK D-LOOP DNA MITOKONDRIA PADA KERBAU LOKAL ACEH BARAT DAN KERBAU GAYO</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Dinda Faras Jelita Naldi</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Pertanian</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Theses</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Kerbau merupakan ternak asli Indonesia dengan pembuktian melalui penelitian genetika molekuler (Rusdin et al., 2018). Kerbau rawa (Bubalus bubalis) adalah salah satu ternak sebagai sumber protein hewani yang berpotensi dikembangkan di berbagai wilayah Indonesia salah satunya di Provinsi Aceh. Provinsi Aceh termasuk wilayah yang memiliki populasi kerbau yang banyak. Kerbau di Provinsi Aceh ada kemungkinan terbagi tiga sub populasi yang berbeda. Kerbau Gayo dan Simeulue merupakan sumber daya genetik ternak lokal yang telah ditetapkan pemerintah sebagai dua rumpun ternak yang perlu dilestarikan, dikembangkan dan dimanfaatkan. Namun kerbau lokal yang ada di Aceh Barat belum pernah dilaporkan sebagai sub populasi yang sama atau berbeda dan hal ini belum pernah dilaporkan. Padahal kejelasan pembagian sub populasi merupakan hal penting untuk memudahkan Upaya pengembangan sumber daya genetik ternak di Provinsi Aceh. Oleh karena itu, perlu dilakukannya penelitian ini untuk mengidentifikasi keragaman genetik D-Loop DNA Mitokondria pada kerbau lokal Aceh Barat dan Kerbau Gayo dan melihat hubungan kekerabatan antara kedua populasi kerbau lokal tersebut melalui analisis komposisi nukleotida, jarak genetik dan pohon filogeni.&#13;
Penelitian ini menggunakan DNA mitokondria yang diekstraksi dari sampel darah kerbau Aceh Barat sebanyak 4 ekor dan sampel kerbau Gayo sebanyak 4 ekor. PCR dilakukan dengan menggunakan sepasang primer yaitu forward (5’-TAGTGCTAATACCAACGGCC-3’) dan reverse (5’-AGGCATTTTCAGTGCCTTGC-3’) Primer-primer tersebut didasarkan pada sekuen mtDNA kerbau yang telah dipublikasikan (Parma et al., 2004). Data hasil sekuensing selanjutnya dianalisis menggunakan Alignment by ClustalW dalam Program MEGA 11.&#13;
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa ada variasi nukleotida pada kerbau lokal Aceh Barat dan kerbau Gayo. Kerbau lokal Aceh Barat merupakan populasi yang spesifik, memiliki jarak genetik yang terpisah dengan kerbau Gayo, tetapi tidak terlalu jauh. Kerbau lokal Aceh Barat membentuk satu klaster terpisah dari populasi kerbau Gayo, meskipun keduanya berasal dari wilayah yang sama yaitu Provinsi Aceh. Oleh karena itu, tidak terdapat hubungan kekerabatan antara kerbau lokal Aceh Barat dan Kebau Gayo di Provinsi Aceh.&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>166121</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-07-23 21:52:42</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-07-24 10:16:37</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>