<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="165391">
 <titleInfo>
  <title>HUBUNGAN KUALITAS UDARA RUANG DALAM DENGAN DESAIN VENTILASI DAN LAYOUT RUANG. STUDI KASUS:</title>
  <subTitle>PUSKESMAS DI KOTA BANDA ACEH</subTitle>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Nuri Ihsani</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Teknik</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Theses</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Abstrak&#13;
Kualitas udara ruang dalam pada fasilitas kesehatan sangat penting bagi kesehatan dan kenyamanan pasien, pengunjung, dan tenaga medis. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kualitas udara ruang dalam pada dua puskesmas di Kota Banda Aceh—Puskesmas Baiturrahman dan Puskesmas Meuraxa—serta menganalisis hubungannya dengan sistem ventilasi dan layout ruang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan desain studi kasus. Data diperoleh melalui pengukuran parameter fisik (suhu, kelembapan, kecepatan udara) dan kimia (CO2, PM2.5, TVOC, HCHO, CO), observasi ventilasi dan layout ruang, serta survei persepsi pengguna. Analisis dilakukan secara deskriptif dan dengan uji ANOVA. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar parameter kualitas udara berada dalam rentang standar SNI dan ASHRAE, kecuali suhu udara yang mendekati batas atas toleransi (27°C di Puskesmas Baiturrahman dan 26,8°C di Meuraxa). Persepsi pengguna ruang mendukung hasil pengukuran, di mana ruang dengan sirkulasi lebih baik dinilai lebih nyaman dan minim keluhan. Di Puskesmas Baiturrahman, kecepatan udara (p=0,045), suhu (p=0,027), dan PM2.5 (p=0,041) menunjukkan perbedaan signifikan berdasarkan jenis ventilasi dan layout ruang. Di Puskesmas Meuraxa, kelembapan relatif (p=0,007) dan formaldehida (p=0,003) juga menunjukkan perbedaan signifikan antar kategori ventilasi dan layout. Parameter lainnya tidak menunjukkan perbedaan bermakna (p&gt;0,05). Berdasarkan temuan ini, disarankan agar puskesmas menggunakan sistem ventilasi campuran (alami dan mekanis) yang disesuaikan dengan fungsi ruang. Layout terbuka atau semi-terbuka direkomendasikan untuk area publik seperti ruang tunggu, sementara ruang pemeriksaan perlu tetap tertutup untuk menjaga privasi dan mencegah infeksi silang. Ventilasi silang dan pengoperasian jendela/pintu secara terjadwal dapat membantu meningkatkan kualitas udara secara berkelanjutan.&#13;
Kata Kunci: kualitas udara ruang dalam, ventilasi bangunan, layout ruang, puskesmas</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>165391</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-07-23 09:23:50</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-07-23 10:15:06</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>