<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="165153">
 <titleInfo>
  <title>PENGARUH SELF ESTEEM TERHADAP FEAR OF MISSING OUT (FOMO) PADA REMAJA KECANDUAN INSTAGRAM BANDA ACEH</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Nafisha Kayla Patria</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-Universitas Syiah Kuala</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Fenomena Fear of Missing Out (FoMO) merupakan bentuk kecemasan psikologis yang dialami individu saat merasa tertinggal terhadap informasi atau aktivitas sosial yang terjadi di media sosial, terutama pada kalangan remaja pengguna aktif Instagram. Remaja berada pada fase pencarian jati diri dan pembentukan konsep diri, sehingga lebih rentan terpengaruh oleh ekspektasi sosial yang ditampilkan di media daring. Salah satu faktor yang diyakini berkontribusi terhadap FoMO adalah rendahnya tingkat self esteem atau harga diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh self esteem terhadap tingkat FoMO pada remaja yang mengalami kecanduan Instagram di Banda Aceh. Penelitian ini menggunakan teori perbandingan sosial (Social Comparison Theory) oleh Leon Festinger, yang menjelaskan bahwa individu cenderung mengevaluasi diri melalui perbandingan dengan orang lain. Remaja dengan self esteem yang rendah lebih sering melakukan upward comparison di media sosial, yang berpotensi memicu FoMO. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif menggunakan metode survei terhadap 131 remaja berusia 16–24 tahun yang kecanduan Instagram. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner yang disusun berdasarkan indikator self esteem menurut Heatherton dan Polivy, serta indikator FoMO menurut Przybylski et al. Data dianalisis menggunakan regresi linear sederhana dan uji-t parsial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa self esteem memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap FoMO, dengan nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,278. Artinya, 27,8% variasi FoMO dapat dijelaskan oleh self esteem, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain seperti tingkat kecemasan, durasi screen time, atau kualitas hubungan sosial. Temuan ini memperkuat peran penting self esteem dalam mengendalikan dampak psikologis dari penggunaan media sosial yang berlebihan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa upaya penguatan self esteem dan edukasi penggunaan media sosial secara bijak penting dilakukan untuk mencegah munculnya FoMO, khususnya pada remaja. Temuan ini dapat dijadikan dasar bagi intervensi psikososial maupun kampanye literasi digital di kalangan pengguna Instagram.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>165153</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-07-22 17:06:16</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-07-23 09:07:28</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>