HUBUNGAN CURAH HUJAN DENGAN KEMUNCULAN TITIK PANAS (HOTSPOT) SEBAGAI INDIKATOR TERJADINYA KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DI KABUPATEN ACEH BESAR | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

HUBUNGAN CURAH HUJAN DENGAN KEMUNCULAN TITIK PANAS (HOTSPOT) SEBAGAI INDIKATOR TERJADINYA KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DI KABUPATEN ACEH BESAR


Pengarang

RUNY VARERA SIREGAR - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Muhammad Rusdi - 197704012006041001 - Dosen Pembimbing I
Maryam Jamilah - 198609172022042001 - Dosen Pembimbing I



Nomor Pokok Mahasiswa

2105110010027

Fakultas & Prodi

Fakultas Pertanian / Kehutanan (S1) / PDDIKTI : 54251

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Pertanian., 2025

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Kebakaran hutan dan lahan menjadi masalah lingkungan yang dianggap pentingdan menjadi perhatian lokal maupun global. Salah satu faktor pemicu terjadinya kebakaranhutan dan lahan yaitu faktor iklim seperti curah hujan. Curah hujan merupakan indikatorutama pemicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Kabupaten Aceh Besar merupakansalah satu wilayah yang rawan dan sering terjadi kebakaran hutan dan lahan. Data statistikKementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan bahwa total luas kebakaranhutan dan lahan yang terjadi di Kabupaten Aceh Besar tahun 2024 mencapai 1.648 Ha.Besarnya dampak dan kerugian yang ditimbulkan akibat kebakaran hutan dan lahan,sehingga diperlukan upaya yang serius dalam pengendaliannya, berupa kegiatanpencegahan. Pencegahan kebakaran hutan dan lahan dapat dilakukan dengan menggunakandata titik panas untuk dianalisis dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG).Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui sebaran titik panas berdasarkan tutupanlahan dan untuk mengetahui hubungan antara curah hujan dengan titik panas di KabupatenAceh Besar tahun 2019-2024. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisisspasial dan uji statistik menggunakan uji korelasi Bivariate pearson dengan memanfaatkandata titik panas diperoleh dari FIRMS NASA dan data curah hujan menggunakan satelitCHIRPS.Berdasarkan hasil penelitian ditemukan titik panas pada rentang tahun 2019-2024yaitu berjumlah 99 titik. Titik panas yang muncul berdasarkan tutupan lahan paling banyakditemukan di tutupan lahan berupa savana/padang rumput sebanyak 36 titik dan semakbelukar sebanyak 26 titik. Curah hujan Kabupaten Aceh Besar dengan rentang tahun 2019-2024 menunjukkan rata – rata tahunan sebesar 2.380 mm/tahun. Kemunculan titik panastertinggi terjadi pada musim kemarau yaitu pada bulan Juni, Juli, dan Agustus, sebaliknyapenurunan jumlah titik panas terjadi ketika curah hujan tinggi yaitu pada bulan Oktober,November dan Desember. Hasil uji korelasi bivariate pearson yaitu -0.487 yang artinyamemiliki korelasi sedang dan menunjukkan bahwa curah hujan dan titik panas memilikikorelasi dengan arah korelasi negatif, bahwa penurunan curah hujan diikuti dengankenaikan titik panas, sebaliknya peningkatan curah hujan diikuti dengan penurunan titikpanas. Korelasi sedang diartikan bahwa selain curah hujan terdapat faktor lain yangmempengaruhi kemunculan titik panas yaitu aktivitas manusia seperti illegal logging ataupembukaan lahan dengan cara pembakaran

Forest and land fires are considered significant environmental issues that have attracted both local and global attention. One of the main triggering factors of forest and land fires is climate, particularly rainfall. Rainfall is a key indicator that influences the occurrence of such fires. Aceh Besar Regency is one of the regions prone to and frequently affected by forest and land fires. According to statistical data from the Ministry of Environment and Forestry, the total area affected by forest and land fires in Aceh Besar Regency in 2024 reached 1,648 hectares. Due to the severe impact and losses caused by these fires, serious efforts are required for their control, primarily through prevention strategies. Forest and land fire prevention can be carried out by utilizing hotspot data, which can be analyzed using Geographic Information Systems (GIS).The objective of this study is to identify the spatial distribution of hotspots based on land cover and to examine the relationship between rainfall and hotspots in Aceh Besar Regency from 2019 to 2024. The methods used in this research include spatial analysis and statistical testing through Pearson's bivariate correlation, using hotspot data obtained from NASA's FIRMS and rainfall data from the CHIRPS satellite.The results showed that 99 hotspot points were detected between 2019 and 2024. The majority of these hotspots were found in savanna/grassland areas (36 points) and shrubland (26 points). The average annual rainfall in Aceh Besar Regency during the study period was 2,380 mm/year. The highest number of hotspots occurred during the dry season, particularly in June, July, and August, while a decline in hotspot frequency was observed during the rainy months of October, November, and December. The Pearson’s bivariate correlation test yielded a value of -0.487, indicating a moderate negative correlation. This suggests that lower rainfall is associated with an increase in hotspot occurrences, and vice versa. The moderate correlation also implies that, in addition to rainfall, other factors such as human activities—like illegal logging and land clearing through burning—also influence the emergence of hotspots.

Citation



    SERVICES DESK