<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="164791">
 <titleInfo>
  <title>KAJIAN REAKSI OBAT YANG TIDAK DIHARAPKAN (ROTD) PADA PASIEN HIPERTENSI DI RUMAH SAKIT UMUM DR. ZAINOEL ABIDIN BANDA ACEH</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>NURUL MAWADDAH</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas mipa</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Reaksi Obat yang Tidak Diharapkan (ROTD) merupakan tantangan penting dalam terapi jangka panjang, khususnya pasien hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka kejadian ROTD, mengidentifikasi obat penyebab, serta menganalisis faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian ROTD pada pasien hipertensi rawat jalan di RSUDZA Banda Aceh. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain potong lintang pada 85 pasien yang dipilih melalui purposive sampling. ROTD dievaluasi menggunakan algoritma Naranjo (kausalitas), skala Hartwig-Siegel (tingkat keparahan), serta kriteria Schumock dan Thornton (potensi pencegahan). Analisis data mencakup uji univariat, bivariat (chi-square dan point biserial), serta regresi logistik multivariat. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar pasien mengalami ROTD, dengan 90,3%  kasus dikategorikan probable berdasarkan skala Naranjo, 80,6% berskala ringan-sedang, dan 87,3% dinilai mungkin dapat dicegah berdasarkan skala Hartwig-Siegel. Obat antihipertensi yang paling sering menyebabkan ROTD adalah amlodipin (24,2%), yang menyebabkan edema perifer, serta Sacubitril-Valsartan (9%) yang memicu batuk. Uji bivariat menunjukkan usia, durasi pengobatan, dan riwayat merokok sebagai faktor risiko signifikan, sementara pada uji multivariat, durasi pengobatan merupakan faktor risiko paling kuat. Temuan ini menjelaskan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap terapi obat, terutama pada pasien dengan risiko tinggi, untuk meningkatkan keselamatan dan efektivitas pengobatan hipertensi. Penelitian ini diharapkan dapat memperkuat pelaksanaan farmakovigilans serta mendorong optimalisasi pelaporan ROTD di layanan kesehatan.&#13;
 &#13;
Kata kunci: Antihipertensi, faktor risiko, farmakovigilans, ROTD. &#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>HYPERTENSION</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>DRUGS (PHARMACEUTICALS)</topic>
 </subject>
 <classification>615.1</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>164791</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-07-22 11:51:45</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2026-01-19 10:35:03</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>