<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="164719">
 <titleInfo>
  <title>ANALISIS KENDALA PEMBANGUNAN RUANG TERBUKA HIJAU TAMAN KRUENG BARO DI KOTA SIGLI PADA TAHUN 2021</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Rizka Afifah</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-Universitas Syiah Kuala</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Penelitian ini mengkaji permasalahan krusial mengenai minimnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Sigli, yang hanya mencapai 1,7% dari total luas wilayah, jauh di bawah standar minimal 20% untuk RTH publik. Tujuannya adalah untuk mengevaluasi implementasi regulasi RTH di Taman Krueng Baro serta mengidentifikasi tantangan dan peluang pemanfaatannya sebagai ruang publik. Dengan menggunakan metodologi kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi langsung, dan dokumentasi. Analisis penelitian ini didasar kan pada Teori Ruang Publik Stephen Carr untuk menilai kualitas ruang berdasarkan kebutuhan pengguna (kenyamanan, aksesibilitas, aktivitas, keberlanjutan sosial) dan Teori Urban Politics Robert Dahl untuk memahami dinamika kekuasaan dan interaksi aktor dalam kebijakan RTH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Taman Krueng Baro belum memenuhi standar RTH ideal, ditandai oleh sengketa lahan yang belum tuntas, minimnya fasilitas dasar, ketiadaan regulasi teknis lokal, serta kurangnya kolaborasi antarlembaga dan partisipasi masyarakat. Kondisi ini mengakibatkan taman hanya berfungsi sebagai simbol fisik tanpa makna sosial yang signifikan. &#13;
Kata Kunci: Regulasi, ruang terbuka hijau, taman kota, tata kelola, Kota Sigli, Program KOTAKU.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>164719</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-07-22 11:15:41</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-07-22 11:44:17</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>