Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
POLA SEBARAN DAN KETERJANGKAUAN FASILITAS KESEHATAN DI KAWASAN PERI-URBAN KOTA BANDA ACEH (STUDI KASUS: KECAMATAN DARUL IMARAH, INGIN JAYA, BAITUSSALAM, DAN KRUENG BARONA JAYA)
Pengarang
Salwa Nabila - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Halis Agussaini - 196508111993031001 - Dosen Pembimbing I
Putra Rizkiya - 198601212019031009 - Dosen Pembimbing II
Nomor Pokok Mahasiswa
2104110010011
Fakultas & Prodi
Fakultas Teknik / Perencanaan Wilayah dan Kota (S1) / PDDIKTI : 35201
Subject
Kata Kunci
Penerbit
Banda Aceh : Fakultas Teknik.,
Bahasa
No Classification
-
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Salah satu tantangan dalam pelayanan kesehatan adalah keterbatasan aksesibilitas, sebagaimana yang terjadi di wilayah Peri-Urban Kota Banda Aceh di Kecamatan Darul Imarah, Ingin Jaya, Baitussalam, dan Krueng Barona Jaya. Puskesmas dan Puskesmas Pembantu merupakan fasilitas kesehatan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Persebaran, dan jarak jangkauan dari fasilitas kesehatan merupakan aspek penting dalam memenuhi aksesibilitas dalam pelayanan kesehatan masyarakat secara optimal. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis persebaran, dan keterjangkauan terhadap aksesibilitas fasilitas kesehatan. Teknik analisis yang digunakan adalah Nearest Neighbor Analysis untuk mengidentifikasi pola sebaran spasial fasilitas kesehatan dan Network Analysis untuk mengetahui keterjangkauan berdasarkan jarak. Hasil analisis menunjukkan bahwa pola sebaran fasilitas kesehatan secara statistik bersifat acak dengan nilai NNR 1,02, z-score 0,19, dan p-value 0,84 yang berarti terdapat ketidakadilan akses akibat pola perkembangan permukiman yang tidak terencana (urban sprawl). Secara keseluruhan keterjangkauan fasilitas kesehatan berdasarkan analisis service area dari total luas lokasi 75,67 Km2 hanya 42,69 Km2 atau 56,15%, bervariasi dari 9,64% di Kecamatan Ingin Jaya dan 71,29% di Kecamatan Krueng Barona Jaya, yang menggambarkan bahwa perencanaan bersifat non-spasial. Sedangkan hasil analisis location-allocation menunjukkan hanya 35.338 (59%) rumah dari 59.686 yang terjangkau oleh puskesmas dimana ada 24.348 (41%) rumah yang tidak terjangkau dan untuk Pustu ada 31.605 (52%) rumah yang terjangkau dimana ada 28.081 (48%) rumah yang tidak terjangkau, yang menunjukkan bahwa faslitas kesehatan belum merata dan berada di luar jangkauan optimal. Untuk meningkatkan aksesibilitas pelayanan kesehatan maka perlu penambahan jumlah fasilitas dan mempertimbangkan batas administrasi sebagai batas dalam pelayanan.
One of the main challenges in healthcare services is limited accessibility, as observed in the peri-urban areas of Banda Aceh City, specifically in the subdistricts of Darul Imarah, Ingin Jaya, Baitussalam, and Krueng Barona Jaya. Puskesmas (Community Health Centers) and Pustu (Auxiliary Health Centers) are the primary healthcare facilities that provide services to the community. The distribution and coverage distance of these health facilities are crucial aspects in achieving optimal accessibility to public healthcare services. This study aims to analyze the spatial distribution and accessibility of healthcare facilities. The analytical techniques used include Nearest Neighbor Analysis to identify the spatial distribution patterns of healthcare facilities and Network Analysis to evaluate accessibility based on distance. The results show that the spatial distribution of healthcare facilities is statistically random, with a Nearest Neighbor Ratio (NNR) of 1.02, a z-score of 0.19, and a p-value of 0.84, indicating inequality of access caused by unplanned settlement development patterns (urban sprawl). Based on the service area analysis, from a total study area of 75.67 km², only 42.69 km² or 56.15% is covered by the service areas of health facilities, with variations ranging from 9.64% in Ingin Jaya to 71.29% in Krueng Barona Jaya, reflecting that planning does not adequately incorporate spatial considerations. Meanwhile, the location-allocation analysis reveals that only 35,338 houses (59%) out of 59,686 are served by Puskesmas, while 24,348 houses (41%) are not, and for Pustu, 31,605 houses (52%) are served while 28,081 houses (48%) are not, indicating that the distribution of healthcare facilities remains uneven and beyond optimal service reach. To improve accessibility to healthcare services, it is necessary to increase the number of facilities and reconsider the use of administrative boundaries as service limitations.
ANALISIS PERKEMBANGAN KAWASAN PINGGIRAN KOTA (PERI-URBAN ) SEBAGAI AKIBAT ALIH FUNGSI LAHAN ( STUDI KASUS DI KECAMATAN INGIN JAYA, KRUENG BARONA JAYA DAN DARUL IMARAH KABUPATEN ACEH BESAR ) (RINI ROSDINA, 2019)
PENERAPAN WEIGHTED OVERLAY UNTUK KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN DI WILAYAH PERI-URBAN KOTA BANDA ACEH (RIZKI NABILAH SILMINA, 2023)
TRANSFORMASI URBAN DI WILAYAH PERI URBAN (STUDI KASUS WILAYAH BANDA ACEH DAN ACEH BESAR) (Muhibuddin, 2019)
STRATEGI KERJASAMA TATA GUNA LAHAN ANTAR DAERAH (POTENSI KAWASAN PERBATASAN KOTA BANDA ACEH - KABUPATEN ACEH BESAR) (MUTIA SOFYAN, 2019)
KETAHANAN PANGAN RUMAH TANGGA SELAMA PANDEMI COVID-19 DI WILIYAH PERI URBAN (M.SUBCHAN, 2021)