<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="164231">
 <titleInfo>
  <title>AN ANALYSIS OF METAFICTIONAL CHARACTERISTICS IN THE FILM THE WONDERFUL STORY OF HENRY SUGAR</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Aisyah Syukra</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas FKIP UNSYIAH</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Penelitian deskriptif kualitatif ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik metafiksi yang terdapat dalam The Wonderful Story of Henry Sugar, sebuah film pendek bergenre fantasi yang dirilis pada tahun 2023, disutradarai oleh Wes Anderson dan diadaptasi dari cerita pendek karya Roald Dahl tahun 1977. Penelitian ini menggunakan teori metafiksi dari Patricia Waugh (2009) dengan fokus pada tiga karakteristik utama: Self-reflexivity, Breaking the fourth wall, dan Intertextuality. Data dikumpulkan melalui lembar observasi dengan menonton ulang film berdurasi 38 menit tersebut secara berulang, lalu dianalisis menggunakan prosedur analisis data kualitatif lima langkah dari Creswell (2018), yaitu pengelompokan, pemeriksaan ulang, pengkodean, interpretasi, dan penyajian data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik metafiksi yang paling dominan adalah Self-reflexivity sebanyak 114 kali kemunculan (44%), diikuti oleh Breaking the fourth wall sebanyak 104 kali (40%), dan Intertextuality sebanyak 43 kali (16%). Temuan ini menunjukkan bahwa film tersebut sangat kental dengan karakteristik metafiksi, sehingga memperkaya penceritaan menjadi lebih menarik dan sadar akan narasi. Para karakter sering menceritakan tindakan mereka sendiri, berbicara langsung kepada penonton, serta merujuk pada teks lain, menciptakan struktur naratif yang berlapis. Implikasi dari penelitian ini adalah bahwa metafiksi dapat menjadi alat yang efektif untuk meningkatkan keterlibatan penonton dan kedalaman narasi. Sebagai rekomendasi, penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi metafiksi dalam genre film yang berbeda atau membandingkan penggunaannya dalam sastra dan sinema untuk memperluas pemahaman tentang konstruksi naratif dan ekspresi kreatif dalam penceritaan visual.&#13;
&#13;
Kata kunci: Breaking the fourth wall, Film, Intertextuality, Metafiksi, Karakteristik Metafiksi, Self-reflexivity.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>164231</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-07-21 14:48:16</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-07-21 14:51:34</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>