PENGGUNAAN ISU SUMANDO SEBAGAI KAMPANYE NEGATIF (BLACK CHAMPAIGN) DALAM PEMILIHAN KEUCHIK DI DESA TEUNGOH IBOH KECAMATAN LABUHANHAJI KABUPATEN ACEH SELATAN TAHUN 2023 | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

PENGGUNAAN ISU SUMANDO SEBAGAI KAMPANYE NEGATIF (BLACK CHAMPAIGN) DALAM PEMILIHAN KEUCHIK DI DESA TEUNGOH IBOH KECAMATAN LABUHANHAJI KABUPATEN ACEH SELATAN TAHUN 2023


Pengarang

Marhami - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Novita Sari - 199111012019032028 - Dosen Pembimbing I
Ardiansyah - 199001132023211017 - Dosen Pembimbing II
Khalisni - 199205302021021101 - Dosen Pembimbing III



Nomor Pokok Mahasiswa

1910103010013

Fakultas & Prodi

Fakultas Ilmu Sosial dan Politik / Ilmu Politik (S1) / PDDIKTI : 67201

Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-Universitas Syiah Kuala., 2025

Bahasa

Indonesia

No Classification

324.9

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)



Status Sumando dalam Suku Aneuk Jamee di Kecamatan Labuhanhaji sering digunakan oleh lawan politik untuk merusak citra seorang calon Keucik dalam pemilihan kepala desa. Lawan politik menjadikan status Sumando sebagai isu yang berujung dengan diskriminasi. Tuduhan bahwa Sumando tidak memiliki hak atau ikatan yang kuat dalam desa dapat dimanfaatkan untuk mengurangi dukungan masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis penyebab dan bentuk diskriminasi terhadap Sumando dalam Pemilihan Keuchik di Desa Teungoh Iboh Kecamatan Labuhanhaji Barat Kabupaten Aceh Selatan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Teori yang digunakan adalah Diskriminasi Politik yang dikemukakan oleh Pettigrew (1982), terdapat dua tipe diskriminasi, yaitu diskriminasi langsung dan diskriminasi tidak langsung. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa diskriminasi terhadap Sumando dalam pemilihan keuchik di Desa Teungoh Iboh disebabkan, pertama, pengaruh nilai adat yang sangat menjunjung tinggi garis keturunan dan hubungan darah menyebabkan Sumando dianggap tidak memiliki ikatan emosional yang kuat dengan masyarakat setempat. Kedua, stigma sebagai orang luar semakin memperkuat persepsi bahwa mereka kurang memahami nilai adat dan sosial setempat. Ketiga, kampanye negatif yang dilakukan oleh lawan politik melalui penyebaran narasi yang meragukan loyalitas terhadap Sumando dalam pembangunan desa. Kelima, kapabilitas keuchik sebelumnya yang pernah dipimpin oleh Sumando yang tidak berpengalaman dalam mengelola pemerintahan desa. Terakhir, perilaku politik masyarakat yang cenderung memilih kandidat berdasarkan hubungan kekerabatan dan kedekatan emosional. Penelitiam ini juga menemukan bentuk diskriminasi, yaitu diskriminasi langsung seperti penolakan secara terang-terangan, pelecehan verbal selama kampanye, pengucilan dari berbagai kegiatan desa, serta serangan terhadap isu-isu pribadi yang bertujuan untuk merusak reputasi mereka di hadapan masyarakat. Sementara itu, diskriminasi tidak langsung dilakukan melalui cara yang lebih terselubung, seperti pengesampingan peran Sumando dalam proses pengambilan keputusan desa, sindiran halus yang bersifat merendahkan, ujaran kebencian yang tersebar secara terselubung, hingga serangan psikologis yang secara perlahan mengurangi kepercayaan diri dan motivasi mereka dalam berpartisipasi aktif di masyarakat.

Kata kunci: Diskriminasi, Sumando, Pemilihan Keucik, Aneuk Jamee



ABSTRACT The status of Sumando in the Aneuk Jamee ethnic group in Labuhanhaji Subdistrict is often exploited by political opponents to damage the image of a keuchik candidate in the village head election. Political rivals use the Sumando status as an issue that ultimately leads to discrimination. Allegations that Sumando lack rights or strong ties within the village are used to reduce public support. This study aims to identify and analyze the causes and forms of discrimination against Sumando in the keuchik election in Teungoh Iboh Village, West Labuhanhaji Subdistrict, South Aceh Regency. This research employs a qualitative method with a descriptive qualitative approach. The theory used is Political Discrimination, as proposed by Pettigrew (1982), which categorizes discrimination into two types: direct discrimination and indirect discrimination. The findings of this study indicate that discrimination against Sumando in the keuchik election in Teungoh Iboh Village is caused by several factors. First, the influence of customary values that highly uphold lineage and blood relations results in Sumando being perceived as lacking strong emotional ties with the local community. Second, the stigma of being an outsider further reinforces the perception that they do not fully understand local customs and social values. Third, negative campaigns by political opponents spread narratives that cast doubt on Sumando's loyalty to village development. Fourth, the previous keuchik, who was a Sumando and lacked experience in managing village governance, has contributed to the discrimination. Lastly, the political behavior of the community, which tends to choose candidates based on kinship and emotional closeness, further exacerbates the issue. This study also identifies the forms of discrimination faced by Sumando, which include direct discrimination, such as open rejection, verbal harassment during the campaign, exclusion from various village activities, and personal attacks aimed at damaging their reputation in the community. On the other hand, indirect discrimination occurs through more subtle mechanisms, such as sidelining Sumando's role in the village decision-making process, subtle derogatory remarks, covert hate speech, and psychological attacks that gradually diminish their confidence and motivation to actively participate in the community. Keywords: Discrimination, Sumando, Keuchik Election, Aneuk Jamee.

Citation



    SERVICES DESK