<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="163939">
 <titleInfo>
  <title>ANALISIS KARAKTERISTIK LAPISAN KERAS PADA PEMBANGUNAN PLTA MEUREUDU, PIDIE JAYA, MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK 2D</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Ainul Misda Yanti</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Teknik</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Peningkatan kebutuhan listrik mendorong pemanfaatan energi terbarukan, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Dalam rencana pembangunan PLTA Meureudu di Kabupaten Pidie Jaya, diperlukan data geoteknik untuk mengetahui keberadaan lapisan keras sebagai pondasi terowongan. Penelitian ini bertujuan menganalisis lapisan keras menggunakan metode geolistrik resistivitas 2D. Metode yang digunakan adalah konfigurasi Wenner-Schlumberger dengan 4 lintasan pengukuran. Data lapangan diproses menggunakan perangkat lunak Res2Dinv. Hasil interpretasi menunjukkan tiga jenis litologi utama, yaitu lanau (silt) dengan nilai resistivitas antara 36,9-186 Ωm, batupasir (sandstone) dengan nilai resistivitas 186-549 Ωm, dan batugamping (limestone) dengan resistivitas tinggi, berkisar antara 943-1617 Ωm. Lapisan lanau mendominasi bagian dangkal pada kedalaman 0-30 m dan memiliki porositas tinggi, sehingga tidak cocok sebagai pondasi utama. Lapisan batupasir berada di kedalaman 30-40 m dan menunjukkan tingkat kekompakan sedang. Sementara itu, lapisan batugamping berada pada kedalaman sekitar 40-60 m dan diinterpretasikan sebagai lapisan keras karena kekompakannya dan nilai resistivitas yang tinggi. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi awal yang berguna dalam menentukan lokasi pondasi terowongan, serta mendukung proses perencanaan konstruksi PLTA secara lebih efisien.&#13;
&#13;
Kata Kunci: resistivitas 2D, lapisan keras, batugamping, PLTA Meureudu, Pidie Jaya</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>163939</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-07-21 10:42:26</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-07-21 11:21:10</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>