PERAN KOMUNIKASI ANTARBUDAYA DALAM MEMPERTAHANKAN HUBUNGAN HARMONIS ANTARA MASYARAKAT TIONGHOA DAN LOKAL DI KOTA BANDA ACEH | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

PERAN KOMUNIKASI ANTARBUDAYA DALAM MEMPERTAHANKAN HUBUNGAN HARMONIS ANTARA MASYARAKAT TIONGHOA DAN LOKAL DI KOTA BANDA ACEH


Pengarang

Aksa Ashura - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Nadia Muharman - 198410082024212001 - Dosen Pembimbing I



Nomor Pokok Mahasiswa

2110102010072

Fakultas & Prodi

Fakultas Ilmu Sosial dan Politik / Ilmu Komunikasi(S1) / PDDIKTI : 70201

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas llmu Sosial dan Politik (S1)., 2025

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Keberadaan etnis Tionghoa yang telah lama menetap di Banda Aceh menciptakan dinamika sosial yang unik di tengah masyarakat lokal yang mayoritas beragama Islam. Meskipun hubungan antara kedua kelompok etnis ini tergolong harmonis, perbedaan latar belakang budaya dan agama tetap berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dan prasangka sosial. Dalam konteks masyarakat multikultural, komunikasi antarbudaya menjadi unsur krusial dalam mencegah konflik dan menjaga hubungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran komunikasi antarbudaya dalam mempertahankan hubungan harmonis antar kedua kelompok di Kota Banda Aceh. Teori yang digunakan adalah Teori Akomodasi Komunikasi oleh Howard Giles, yang menjelaskan bagaimana individu menyesuaikan pola komunikasi mereka dalam interaksi lintas budaya demi menciptakan pemahaman dan penerimaan sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, melibatkan empat informan dari etnis Tionghoa dan Aceh yang tinggal di kawasan Peunayong, salah satu wilayah dengan interaksi sosial antarbudaya yang tinggi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi non-partisipan, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi antarbudaya berperan dalam membangun dan mempertahankan hubungan harmonis. Penyesuaian gaya komunikasi, keterbukaan, dan sikap saling menghormati menjadi kunci keberhasilan interaksi sosial yang harmonis. Hambatan seperti stereotip, eksklusivitas budaya, dan perbedaan bahasa dapat diminimalkan melalui intensitas komunikasi dan kemauan untuk saling memahami. Penelitian ini menyimpulkan bahwa komunikasi antarbudaya berkontribusi secara nyata dalam menciptakan kehidupan sosial yang inklusif dan damai di Kota Banda Aceh.
Kata Kunci: Komunikasi Antarbudaya, Hubungan Harmonis, Etnis Tionghoa, Masyarakat Lokal, Banda Aceh.

The longstanding presence of the Chinese ethnic group in Banda Aceh has created a unique social dynamic within the predominantly Muslim local community. Although relations between the two ethnic groups are generally harmonious, differences in cultural and religious backgrounds still pose the potential for misunderstandings and social prejudice. In a multicultural society, intercultural communication plays a crucial role in preventing conflict and maintaining social relationship. This study aims to analyze the role of intercultural communication in maintaining harmonious relations between the Chinese and local communities in Banda Aceh. The theoretical framework used in this research is the Communication Accommodation Theory by Howard Giles, which explains how individuals adjust their communication patterns in intercultural interactions to foster mutual understanding and social acceptance. This research employs a qualitative approach with a descriptive method, involving four informants from both the Chinese and Acehnese ethnic groups residing in Peunayong—an area known for high levels of intercultural interaction. Data were collected through semi-structured interviews, non-participant observation, and documentation. The findings show that intercultural communication plays a role in building and sustaining harmonious relations. The adjustment of communication styles, openness, and mutual respect are key factors in promoting tolerant and effective interactions. Challenges such as stereotypes, cultural exclusivity, and language differences can be minimized through frequent communication and a willingness to understand one another. The study concludes that intercultural communication makes a substantial contribution to fostering an inclusive and peaceful social life in Banda Aceh. Keywords: Intercultural Communication, Harmonious Relations, Chinese Ethnic Group, Local Community, Banda Aceh.

Citation



    SERVICES DESK