<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="163827">
 <titleInfo>
  <title>PERAN KOMUNIKASI ANTARBUDAYA DALAM MEMPERTAHANKAN HUBUNGAN HARMONIS ANTARA MASYARAKAT TIONGHOA DAN LOKAL DI KOTA BANDA ACEH</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Aksa Ashura</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas llmu Sosial dan Politik (S1)</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Keberadaan etnis Tionghoa yang telah lama menetap di Banda Aceh menciptakan dinamika sosial yang unik di tengah masyarakat lokal yang mayoritas beragama Islam. Meskipun hubungan antara kedua kelompok etnis ini tergolong harmonis, perbedaan latar belakang budaya dan agama tetap berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dan prasangka sosial. Dalam konteks masyarakat multikultural, komunikasi antarbudaya menjadi unsur krusial dalam mencegah konflik dan menjaga hubungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran komunikasi antarbudaya dalam mempertahankan hubungan harmonis antar kedua kelompok di Kota Banda Aceh. Teori yang digunakan adalah Teori Akomodasi Komunikasi oleh Howard Giles, yang menjelaskan bagaimana individu menyesuaikan pola komunikasi mereka dalam interaksi lintas budaya demi menciptakan pemahaman dan penerimaan sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, melibatkan empat informan dari etnis Tionghoa dan Aceh yang tinggal di kawasan Peunayong, salah satu wilayah dengan interaksi sosial antarbudaya yang tinggi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi non-partisipan, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi antarbudaya berperan dalam membangun dan mempertahankan hubungan harmonis. Penyesuaian gaya komunikasi, keterbukaan, dan sikap saling menghormati menjadi kunci keberhasilan interaksi sosial yang harmonis. Hambatan seperti stereotip, eksklusivitas budaya, dan perbedaan bahasa dapat diminimalkan melalui intensitas komunikasi dan kemauan untuk saling memahami. Penelitian ini menyimpulkan bahwa komunikasi antarbudaya berkontribusi secara nyata dalam menciptakan kehidupan sosial yang inklusif dan damai di Kota Banda Aceh.&#13;
Kata Kunci: Komunikasi Antarbudaya, Hubungan Harmonis, Etnis Tionghoa, Masyarakat Lokal, Banda Aceh.&#13;
 &#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>163827</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-07-21 02:18:01</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-07-21 09:57:25</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>