<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="163805">
 <titleInfo>
  <title>PEMODELAN BANJIR PADA SUNGAI KRUENG SIMPO KABUPATEN BIREUEN PROVINSI ACEH</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>YURIZKI AKBAR</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fak. Teknik Sipil</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Sungai mempunyai banyak fungsi yang dapat dimanfaatkan bagi kehidupan manusia. Namun, ketika curah hujan tinggi mengakibatkan debit air di badan sungai meningkat. Peningkatan debit air dalam jangka panjang dan berkelanjutan dapat menyebabkan debit aliran melebihi kapasitas tampungan sungai, sehingga terjadi banjir akibat limpasan air dari sungai. Sungai Krueng Simpo di Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh, merupakan daerah rawan banjir akibat meningkatnya debit aliran selama musim hujan. Sub DAS Krueng Simpo yang memiliki luas 180,6 Km2 telah memberikan manfaat yang banyak bagi masyarakat disekitar sub DAS tersebut mulai dari pertanian, sumber air irigasi, dan PDAM. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan kondisi banjir di wilayah tersebut dengan menganalisis debit banjir berdasarkan periode ulang (2, 5, 10, 25, 50, dan 100 tahun) serta memetakan luas dan kedalaman genangan banjir. Metode yang digunakan meliputi analisis hidrologi dengan pendekatan HSS SCS melalui perangkat lunak HEC-HMS dan pemodelan banjir 2D menggunakan HEC-RAS. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa luas genangan banjir meningkat seiring dengan bertambahnya periode ulang, yaitu sebesar 4,49  km² (2 tahun), 4,81 km² (5 tahun), 5,09 km² (10 tahun), 5,22 km² (25 tahun), 5,33 km² (50 tahun), dan 5,41 km² (100 tahun). Sementara itu, distribusi kedalaman banjir juga mengalami peningkatan. Pada periode ulang 2 tahun, genangan dengan kedalaman &gt;2 m mencakup 80.10% area terdampak, dan pada periode ulang 100 tahun meningkat menjadi 85.58%. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah terdampak mengalami genangan dalam, yang berpotensi menimbulkan kerusakan signifikan terhadap infrastruktur dan pemukiman.&#13;
Kata Kunci: HEC-HMS, HEC-RAS, debit puncak, luas genangan, kedalaman genangan, Krueng Simpo&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>163805</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-07-21 00:20:59</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-07-21 09:44:02</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>