<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="163469">
 <titleInfo>
  <title>ANALISIS TRANSFORMASI BANGUNAN PENINGGALAN KOLONIAL BELANDA SEBAGAI KANTOR SATPOL PP DAN WH BUNTUL KUBU DI KOTA TAKENGON</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>SAPUTRA MAHARA</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Teknik Arsitektur</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>ABSTRAK&#13;
Bangunan peninggalan kolonial Belanda merupakan bagian dari warisan sejarah arsitektur yang merekam jejak kehidupan masa penjajahan. Salah satu bangunan tersebut adalah Pesanggrahan Buntul Kubu di Takengon, Aceh Tengah, yang dibangun pada tahun 1906 dan kini beralih fungsi menjadi Kantor Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Wilayatul Hisbah (WH). Dengan letak yang strategis dan karakteristik arsitektur kolonial Belanda yang masih menonjol, terutama pada fasad bangunan, pesanggrahan ini menyimpan nilai historis yang penting namun belum terdokumentasi secara ilmiah. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis transformasi bangunan tersebut dan menilai kelayakannya sebagai bangunan cagar budaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara, dan dokumentasi visual terhadap perubahan elemen-elemen bangunan, baik interior maupun eksterior. Analisis berfokus pada perubahan fungsi ruang, adaptasi material, serta pergeseran karakter visual dan struktural bangunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi bangunan melibatkan perubahan signifikan pada tata ruang, material, dan elemen arsitektural. Ruang-ruang seperti kamar dan dapur diubah menjadi ruang staf dan ruang tahanan, cerobong asap dihilangkan, serta elemen fasad seperti kanopi dan pintu dimodifikasi untuk kebutuhan fungsi modern. Meskipun mengalami perubahan, bangunan ini tetap mempertahankan bentuk dasar, struktur utama, serta karakter gaya Arsitektur Peralihan khas kolonial. Berdasarkan hasil tabulasi, Kantor Satpol PP Buntul Kubu memenuhi seluruh kriteria bangunan cagar budaya dari aspek usia, gaya arsitektur, nilai sejarah, dan keaslian bentuk. Oleh karena itu, bangunan ini layak untuk ditetapkan sebagai objek cagar budaya dan dilestarikan sebagai bagian dari identitas arsitektur Indonesia.&#13;
Kata kunci : Arsitektur kolonial, Transformasi Bangunan, Buntul Kubu, Pesanggrahan, Cagar Budaya.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>BUILDINGS - ARCHITECTURE</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>COLONIAL ARCHITECTURE</topic>
 </subject>
 <classification>724.1</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>163469</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-07-18 16:15:26</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2026-02-04 15:27:32</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>