<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="163361">
 <titleInfo>
  <title>ANALISIS PERKEMBANGAN PERLUASAN BANGUNAN PADA MASJID RAYA BAITURRAHMAN KOTA BANDA ACEH</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>ISRIZAL HELMI</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Teknik</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh merupakan simbol utama keagamaan dan budaya masyarakat Aceh sekaligus menjadi warisan arsitektur Islam yang penting di Indonesia. Masjid ini pertama kali dibangun pada tahun 1612 oleh Sultan Iskandar Muda. Sepanjang sejarahnya, masjid mengalami berbagai fase pembangunan dan renovasi, termasuk saat dihancurkan oleh Belanda pada tahun 1873 dan dibangun kembali oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda antara 1879–1881. Renovasi besar juga dilakukan pada tahun 1935, 1975, 1981 menjelang MTQ Nasional, 1992–1993, hingga pengembangan besar pada 2017 yang masih berlanjut hingga kini. Dari sisi arsitektur, bangunan ini telah mengalami transformasi dari rumah ibadah tradisional bergaya Aceh dengan atap tumpang menjadi struktur monumental bergaya Mughal, Indo-Persia, dan Ottoman. Elemen-elemen seperti kubah berbentuk bawang, menara tinggi, kolam refleksi, dan penggunaan marmer Italia memperkaya kesan visual dan spiritual masjid. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif deskriptif dan studi kasus, menggunakan observasi lapangan, wawancara, dokumentasi arsitektur, serta kajian literatur sejarah.&#13;
Masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kegiatan sosial, pendidikan, dan wisata religi. Seiring pertumbuhan jumlah jamaah, kapasitas bangunan terus ditingkatkan. Penelitian ini menunjukkan bahwa Masjid Raya Baiturrahman merupakan contoh harmonis antara nilai universal arsitektur Islam dan lokalitas budaya Aceh. Oleh karena itu, penting untuk melakukan konservasi teknis bangunan bersejarah ini sesuai dengan kondisi iklim tropis Aceh dan merancang pengembangan kawasan masjid berdasarkan prinsip arsitektur Islam tropis yang adaptif dan kontekstual. Perkembangan Perluasan Mesjid Raya tidak perlu dilakukan lagi untuk kedepannya dikarenakan Masjid Raya Baiturrahman Masih mampu menampung 24.000 Jamaah. dan dapat merusak citra khas Masjid Raya Baiturrahman serta didukung oleh Bangunan – bangunan Masjid di Banda Aceh juga sudah bertambah luas.&#13;
Kata Kunci : Perkembangan, Renovasi dan Perluasan.&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>163361</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-07-18 13:09:33</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-07-18 14:55:53</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>