ANALISIS MARKETABLE SURPLUS USAHATANI PADI DI KABUPATEN ACEH BESAR | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

ANALISIS MARKETABLE SURPLUS USAHATANI PADI DI KABUPATEN ACEH BESAR


Pengarang

RAMLANI - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Virda Zikria - 199206232022032009 - Dosen Pembimbing I
Sofyan - 196611051992031004 - Dosen Pembimbing II



Nomor Pokok Mahasiswa

2105102010068

Fakultas & Prodi

Fakultas Pertanian / Agribisnis (S1) / PDDIKTI : 54201

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Pertanian., 2025

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Kabupaten Aceh Besar dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil padi dengan potensi besar dalam mendukung ketahanan pangan. Produksi padi di Provinsi Aceh mencapai sekitar 2,5 juta ton per tahun, sementara konsumsi tahunan mencapai sekitar 1,2 juta ton. Peningkatan produksi padi sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan beras nasional yang semakin meningkat seiring peningkatan jumlah penduduk. Namun, tantangan dalam meningkatkan produksi dan distribusi hasil pertanian di Kabupaten Aceh Besar semakin mendesak, terutama dalam konteks kesejahteraan petani. Salah satu aspek penting dalam menilai kesejahteraan petani adalah surplus yang dapat dipasarkan, yaitu hasil pertanian yang dapat dijual setelah memenuhi kebutuhan konsumsi sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat marketable surplus usahatani padi dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi marketable surplus usahatani padi di Kabupaten Aceh Besar.
Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Indrapuri dan Seulimum Kabupaten Aceh Besar, berlangsung pada bulan Juli 2024. Penentuan lokasi penelitian ditentukan secara purposive. Pemilihan Kecamatan Indrapuri dan Seulimum berdasarkan pertimbangan bahwa Kecamatan Indrapuri merupakan kecamatan jumlah produksi padi terbanyak dan Kecamatan Seulimum merupakan Kecamatan dengan luas lahan terluas di Kecamatan Aceh Besar. Objek dalam penelitian ini adalah petani yang memiliki usahatani padi. Adapun ruang lingkup penelitian ini difokuskan pada analisis marketable surplus Usahatani Padi di Kabupaten Aceh Besar. Lokasi penelitian dipilih masing-masing empat desa dengan pertimbangan memiliki luas lahan lebih dari 0,5 hektar dan jumlah petani terbanyak. Desa-desa tersebut adalah Desa Reukih Kupula dengan 75 jiwa, Desa Grot Blang dengan 125 jiwa, Desa Lambada dengan 82 jiwa, dan Desa Lamteba Dro dengan 105 jiwa. Pengambilan sampel menggunakan metode proporsional random sampling dengan persentase 20%, sehingga diperoleh jumlah sampel sebanyak 77 petani. Responden dalam penelitian ini dipilih dengan teknik pengambilan sampel acak sederhana (simple random sampling). Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dengan pendekatan kuantitatif.
Berdasarkan hasil penelitian peneliti menemukan bahwa terdapat marketable surplus di Kecamatan Indrapuri mencapai 456,9 ton, sedangkan di Kecamatan Seulimum sebesar 261,4 ton. Dengan persentasenya di atas 50%, menunjukkan bahwa produksi padi melebihi kebutuhan, sehingga dapat dipasarkan lebih banyak Selain itu, adapun faktor- faktor yang mempengaruhi marketable surplus usahatani padi yang berpengaruh signifikan yaitu jumlah produksi, jumlah konsumsi, pendapatan keluarga, jumlah tanggungan keluarga, dan tingkat pendidikan terhadap marketable surplus usahatani padi di Kecamatan Indrapuri dan Seulimum, Kabupaten Aceh Besar. Namun, luas lahan tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap marketable surplus usahatani padi di Kecamatan Indrapuri dan Seulimum.

Aceh Besar Regency is known as one of the regions with significant rice production potential, contributing to food security. Rice production in Aceh Province reaches about 2.5 million tons per year, while annual consumption is around 1.2 million tons. Increasing rice production is essential to meet the rising national rice demand due to the growing population. However, challenges in enhancing production and distribution of agricultural products in Aceh Besar Regency are increasingly pressing, particularly concerning farmers' welfare. One important aspect in assessing farmers' welfare is marketable surplus, which refers to agricultural output available for sale after meeting self-consumption needs. This research aims to determine whether there is a marketable surplus in rice farming and which factors influence this surplus in Aceh Besar Regency. The study was conducted in Indrapuri and Seulimum Subdistricts of Aceh Besar Regency, taking place in July 2024. The research locations were selected purposively, with Indrapuri chosen for its high rice production and Seulimum for its extensive land area in Aceh Besar. The subjects of the study are farmers engaged in rice farming. The scope of the research focuses on analyzing the marketable surplus of rice farming in Aceh Besar. Four villages were selected from each subdistrict based on having more than 0.5 hectares of land and a significant number of farmers. These villages are Reukih Kupula with 75 residents, Grot Blang with 125 residents, Lambada with 82 residents, and Lamteba Dro with 105 residents. Sampling was conducted using proportional random sampling at a rate of 20%, yielding a sample size of 77 farmers. Respondents were selected using simple random sampling techniques. The data used in this study include both primary and secondary data, which were analyzed descriptively using a quantitative approach. Based on the research findings, it was discovered that there is a marketable surplus in Indrapuri Subdistrict amounting to 456.9 tons, while in Seulimum it is 261.4 tons. With a percentage above 50%, this indicates that rice production exceeds consumption needs, allowing for greater marketability. Additionally, the factors significantly influencing the marketable surplus in rice farming include production volume, consumption level, family income, number of family dependents, and education level in Indrapuri and Seulimum Subdistricts of Aceh Besar. However, land area did not show a significant effect on the marketable surplus in these subdistricts.

Citation



    SERVICES DESK