ANALISIS MANAJEMEN PEMELIHARAAN GEDUNG MENARA SENTRAL TELEPON MILITER BELANDA SEBAGAI ASET CAGAR BUDAYA OLEH PEMERINTAH KOTA BANDA ACEH | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

ANALISIS MANAJEMEN PEMELIHARAAN GEDUNG MENARA SENTRAL TELEPON MILITER BELANDA SEBAGAI ASET CAGAR BUDAYA OLEH PEMERINTAH KOTA BANDA ACEH


Pengarang

Dinda Septya Natasya - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Dahlawi - 196201011985031019 - Dosen Pembimbing I



Nomor Pokok Mahasiswa

2110104010057

Fakultas & Prodi

Fakultas Ilmu Sosial dan Politik / Ilmu Pemerintahan (S1) / PDDIKTI : 65201

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-Universitas Syiah Kuala., 2025

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Kota Banda Aceh merupakan wilayah yang memiliki berbagai tempat yang dengan
historis yang panjang atau dapat dikenal juga dengan cagar budaya, salah satu cagar
budaya milik Pemerintah Kota Banda Aceh yang menarik adalah Gedung Menara
Sentral Telepon Militer Belanda. Gedung ini merupakan salah satu peninggalan
bersejarah masa kolonial Belanda yang memiliki nilai historis dan kultural penting bagi
Kota Banda Aceh. Namun, kondisi gedung saat ini menunjukkan kerusakan yang
cukup parah akibat kurangnya perawatan secara berkelanjutan oleh Pemerintah Kota
Banda Aceh sebagai aset daerah sehingga tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui dan memahami manajemen pemeliharaan aset cagar budaya oleh
Pemerintah Kota Banda Aceh dengan analisis data mengacu pada teori manajemen
George R. Terry yang mencakup empat indikator yaitu perencanaan, pengorganisasian,
pergerakan, dan pengawasan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif
dengan pendekatan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen
pemeliharaan Gedung Menara Sentral Telepon Militer Belanda belum terlaksana
dengan baik sesuai dengan teori yang digunakan. Perencanaan telah disusun dalam
RKBMD dan RKPD, namun pelaksanaannya tertunda karena keterbatasan anggaran
dan prioritas program kerja, pengorganisasian tidak erjalan dengan baik karena posisi
jabatan yang masih belum teriis dengan sumber daya menusia yang berkompeten,
pergerakan menunjukkan komitmen positif melalui keterlibatan langsung Kepala
Bidang Kebudayaan dalam urusan di lapangan, pengawasan masih lemah dan terdapat
miskomunikasi antar instansi terkait pemeliharaan aset. Hambatan dari pemeliharaan
Gedung Menara Sentral Telepon Militer Belanda meliputi keterbatasan anggaran
sehingga tertundanya renovasi, kekurangan sumber daya manusia yaitu kosongnya
posisi pamong cagar budaya di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bandas Aceh,
koordinasi antar pihak eksternal yaitu Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah I
Provinsi Aceh, pengamat budaya serta masyarakat serta kurangnya pemahaman
terhadap urusan kebudayaan. Oleh karena itu, diperlukan strategi manajemen yang
lebih optimal dan komprehensif guna menjaga keberlanjutan warisan budaya ini
dimasa mendatang.

Kata kunci: Manajemen, Pemeliharaan Aset, Cagar Budaya, Gedung Menara
Sentral Telepon Militer Belanda, Pemerintah Kota Banda Aceh.

Banda Aceh City is a region that has various places with a long historical background or also known as cultural heritage. One of the cultural heritage assets owned by the Banda Aceh City Government that is interesting is the Dutch Military Telephone Central Tower Building. This building is one of the historical relics from the Dutch colonial era which has important historical and cultural value for Banda Aceh City. However, the current condition of the building shows quite severe damage due to the lack of continuous maintenance by the Banda Aceh City Government as a regional asset. Therefore, the purpose of this research is to find out and understand the management of cultural heritage asset maintenance by the Banda Aceh City Government with data analysis referring to George R. Terry's management theory which includes four indicators, namely planning, organizing, actuating, and controlling, using a qualitative descriptive research method through data collection techniques in the form of observation, interviews, and documentation. The results of the research show that the maintenance management of the Dutch Military Telephone Central Tower Building has not been well implemented according to the theory used. Planning has been arranged in the RKBMD and RKPD, but its implementation is delayed due to budget constraints and prioritization, organizing is hampered by the vacancy in the position of cultural heritage officer, actuating shows a positive commitment through the direct involvement of the Head of the Culture Division in field inspections, controlling is still weak and there is miscommunication between institutions related to asset maintenance. The obstacles to maintaining the Dutch Military Telephone Central Tower Building include budget constraints causing renovation delays, lack of human resources especially in the position of cultural heritage officer, and weak coordination between external parties such as the Cultural Heritage Preservation Office Region I of Aceh Province, cultural observers, and the community, as well as lack of understanding of cultural. Therefore, a more optimal and comprehensive management strategy is needed to preserve this cultural heritage in the future. Keywords: Management, Asset Maintenance, Cultural Heritage, The Dutch Military Telephone Central Tower Building, Banda Aceh City Government.

Citation



    SERVICES DESK