<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="162841">
 <titleInfo>
  <title></title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>AMANDA PUTRI</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>fakulta mipa</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Ketimpangan harga kebutuhan pokok antarwilayah menjadi isu penting dalam perekonomian daerah di tingkat kabupaten/kota. Perbedaan harga yang mencolok dapat memengaruhi kesejahteraan masyarakat dan menyebabkan tekanan inflasi yang tidak merata. Untuk memahami pola ini, diperlukan pendekatan analitis yang dapat mengelompokkan wilayah berdasarkan kemiripan harga serta mengkaji hubungannya dengan inflasi. Penelitian ini mengevaluasi hubungan antara struktur harga kebutuhan pokok dan tingkat inflasi di 150 kabupaten/kota di Indonesia. Metode yang digunakan adalah agglomerative hierarchical clustering dengan lima teknik linkage: single, average, complete, centroid, dan ward’s. Hasil visualisasi dendrogram menunjukkan bahwa ward’s linkage menghasilkan struktur klaster yang paling jelas dan terpisah. Validitas klaster diuji menggunakan metrik internal dan uji stabilitas, yang menunjukkan hasil konsisten. Klasterisasi menghasilkan tiga kelompok utama: klaster 1 dengan harga terendah, klaster 2 dengan harga tertinggi, dan klaster 3 dengan harga menengah. Tingkat inflasi masing-masing klaster adalah 0,121 untuk klaster 1, 0,128 untuk klaster 2, dan tertinggi pada klaster 3 sebesar 0,183. Hasil ini menunjukkan bahwa inflasi tidak selalu berkorelasi langsung dengan tingkat harga. Wilayah dengan harga tertinggi belum tentu mengalami inflasi tertinggi. Hal ini menegaskan bahwa inflasi mencerminkan perubahan harga dari waktu ke waktu, bukan hanya besarnya harga itu sendiri. Temuan ini diharapkan dapat menjadi masukan dalam perumusan kebijakan pengendalian harga dan pengelolaan inflasi kabupaten/kota.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>162841</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-07-17 13:41:25</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-07-17 14:50:00</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>