ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL BUS TRANS KOETARADJA KORIDOR 2A (PUSAT KOTA – LAMBARO – BLANG BINTANG) BERDASARKAN TARIF BIAYA OPERASIONAL KENDARAAN | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL BUS TRANS KOETARADJA KORIDOR 2A (PUSAT KOTA – LAMBARO – BLANG BINTANG) BERDASARKAN TARIF BIAYA OPERASIONAL KENDARAAN


Pengarang

Muhammad Hafizh - Personal Name;

Dosen Pembimbing

M. Isya - 196204111989031002 - Dosen Pembimbing I
Cut Mutiawati - 197605262006042003 - Dosen Pembimbing II



Nomor Pokok Mahasiswa

1804101010006

Fakultas & Prodi

Fakultas Teknik / Teknik Sipil (S1) / PDDIKTI : 22201

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fak. Teknik Sipil., 2025

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Trans Koetaradja adalah fasilitas transportasi umum yang mulai beroperasi sejak 2016 di Banda Aceh. Saat ini, tarif Bus Trans Koetaradja masih gratis karena operasionalnya masih disubsidi oleh Dana Otonomi Khusus (OTSUS) di Provinsi Aceh. Dana OTSUS akan berakhir pada tahun 2027. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan tarif berdasarkan biaya operasional kendaraan (BOK) serta menghitung kelayakan finansial Bus Trans Koetaradja Koridor 2A. Selain itu, penelitian ini juga mengidentifikasi karakteristik dan persepsi penumpang terhadap tarif berdasarkan BOK. Koridor ini memiliki panjang rute 18,98 km dengan bus yang beroperasi setiap hari, dengan rincian 6 bus pada Hari Senin – Sabtu, 4 bus pada Hari Minggu. Data yang dikumpulkan yaitu data naik dan turun penumpang, data karakteristik dan persepsi penumpang terhadap tarif, dan data BOK Bus Trans Koetaradja dari Dinas Perhubungan Aceh. Data pendapatan bus diperoleh berdasarkan tarif yang sudah di analisis dengan asumsi kenaikan sebesar Rp.1000 setiap 4 tahun sekali, sedangkan pengeluaran bus diperoleh berdasarkan BOK dengan asumsi kenaikan 5% per tahun. BOK yang harus dikeluarkan untuk 6 unit bus besar pada koridor 2A sebesar Rp 1.954.963.383,- per tahun. Hasil dari analisis tarif pada koridor 2A dengan nilai BOK dan load factor sebesar 24,17% menggunakan metode Departemen Perhubungan (2002), yaitu sebesar Rp9.500,-. Berdasarkan persepsi penumpang terhadap tarif tersebut sebesar 82% tidak setuju dan 18% setuju. Didapatkan hasil dari analisis kelayakan finansial selama 14 tahun dengan menggunakan discount rate 8%, 10%, 12% dan 15% diperoleh IRR pada kondisi NPV = 0 dan BCR = 1 sebesar 11,77%, maka Bus Trans Koetaradja koridor 2A dinyatakan layak dioperasikan secara finansial pada discount rate 11,77%, jika dilihat pada besaran discount rate di atas 11,77% dapat disimpulkan bahwa pengoperasian bus tersebut belum layak secara finansial, dengan besaran suku bunga pada payback period tertinggi adalah sebesar 11,77% membutuhkan jangka waktu pengembalian modal dari pengoperasian bus tersebut pada tahun ke-14.

Kata Kunci : Trans Koetaradja, Tarif, BOK, Kelayakan Finansial

Trans Koetaradja is a public transportation facility that has been operating since 2016 in Banda Aceh. Currently, Trans Koetaradja Bus tariffs remain free because the operation is still subsidized by the Special Autonomy Fund (OTSUS) in Aceh Province. The OTSUS fund will end in 2027. Therefore, this research aims to determine tariffs based on Vehicle Operating Costs (VOC) and to calculate the financial feasibility of Trans Koetaradja Bus Corridor 2A. In addition, this study identifies the characteristics and perceptions of passengers toward tariffs based on VOC. This corridor has a route length of 18.98 km with buses operating daily, 6 buses on Monday – Saturday, and 4 buses on Sunday. The data collected includes data on passenger boarding and alighting, passenger characteristics and perceptions regarding tariffs, and VOC data of Trans Koetaradja Bus from the Aceh Transportation Department. Bus revenue data is obtained based on tariffs that have been analyzed with an assumption of an increase of Rp.1,000 every 4 years, while bus expenditure is obtained based on VOC with an assumption of a 5% increase per year. The VOC for operating 6 large buses on corridor 2A is Rp 1,954,963,383 per year. The tariff analysis for corridor 2A, based on VOC and a load factor of 24.17%, using the Ministry of Transportation method (2002), result in a fare of Rp9,500. According to passenger perceptions of that tariff, 82% disagreed and 18% agreed. The result of the financial feasibility analysis over 14 years using discount rates of 8%, 10%, 12%, and 15% shows that the IRR at the condition NPV = 0 and BCR = 1 is 11.77%. Thus, the Trans Koetaradja Bus on corridor 2A is declared financially feasible at a discount rate of 11.77%. At discount rates above 11.77%, it can be concluded that the operation of the bus is not yet financially feasible, with the interest rate at the highest payback period being 11.77%, requiring a capital recovery period from the bus operation in the 14th year. Keywords: Trans Koetaradja, Tariff, VOC, Financial Feasibility

Citation



    SERVICES DESK