<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="162611">
 <titleInfo>
  <title>PERKUATAN BALOK BETON BERTULANG YANG MENGALAMI GAGAL GESER DENGAN MENGGUNAKAN PELAT FEROFOAM CONCRETE</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Nurul Bahagia</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fak. Teknik Sipil</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Theses</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Seiring waktu, beton dapat mengalami penurunan kekuatan hingga kegagalan struktur, terutama pada elemen balok yang menahan momen dan gaya geser akibat beban berlebih atau bencana alam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku dan kapasitas geser balok beton bertulang setelah diperkuat menggunakan ferofoam concrete. Dua jenis benda uji digunakan, yaitu balok normal perkuatan (B-NP) dengan agregat kasar alami, dan balok limbah perkuatan (B-LP) dengan dimensi balok berukuran 200 mm x 330 mm x 2200 mm yang menggunakan substitusi 50% limbah beton sebagai agregat kasar. Pengujian dilakukan setelah beton mencapai umur 28 hari. Sebagai pembanding, digunakan data beton balok berukuran 150 mm x 300 mm x 2200 mm dengan umur beton 28 hari., yang diambil dari penelitian sebelumnya. Nilai beban maksimum yang ditopang oleh benda uji B-N dan B-L masing-masing adalah 19,52 ton dan 18,21 ton. Pada beban maksimum tersebut, lendutan yang terjadi pada B-N adalah sebesar 8,99 mm, sedangkan pada B-L mencapai 15,28 mm. Pola retak pada balok B-N dan B-L menunjukkan retak lentur awal, terjadi masing-masing pada beban 4 ton dengan lendutan 0,89 mm (B-N), dan 3,2 ton dengan lendutan 5,44 mm (B-L). Retakan tersebut kemudian memanjang secara diagonal hingga ke zona tekan beton, yang mengindikasikan kegagalan geser. Setelah mengalami kegagalan geser, balok diperkuat menggunakan wiremesh dan lapisan ferofoam concrete, lalu diuji kembali untuk mengetahui efektivitas metode perkuatan. Hasil menunjukkan bahwa beban maksimum yang dapat ditahan oleh B-NP sebesar 20,45 ton dengan lendutan maksimum 10,90 mm, sedangkan B-LP sebesar 17,63 ton dengan lendutan 9,34 mm. Pola retak pada kedua balok menunjukkan kegagalan geser, dengan retak awal muncul pada beban 2 ton (B-NP) dan 2,4 ton (B-LP). Perbandingan hasil menunjukkan bahwa metode perkuatan dengan ferofoam concrete efektif meningkatkan kapasitas geser, dengan performa yang bervariasi tergantung jenis agregat yang digunakan.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>162611</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-07-17 09:10:10</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-07-17 10:25:22</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>