ANALISIS SPASIAL PERUBAHAN TUTUPAN HUTAN MANGROVE DAN IMPLIKASINYA TERHADAP POLA RUANG RTRW TAHUN 2009-2029 DI PESISIR KOTA BANDA ACEH | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

ANALISIS SPASIAL PERUBAHAN TUTUPAN HUTAN MANGROVE DAN IMPLIKASINYA TERHADAP POLA RUANG RTRW TAHUN 2009-2029 DI PESISIR KOTA BANDA ACEH


Pengarang

Dhaifullah Agil - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Halis Agussaini - 196508111993031001 - Dosen Pembimbing I
Putra Rizkiya - 198601212019031009 - Dosen Pembimbing II



Nomor Pokok Mahasiswa

2104110010024

Fakultas & Prodi

Fakultas Teknik / Perencanaan Wilayah dan Kota (S1) / PDDIKTI : 35201

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Teknik., 2025

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Hutan mangrove merupakan bagian penting dari ekosistem pesisir dengan fungsi
ekologis, ekonomis, serta peran dalam mitigasi bencana. Di pesisir Kota Banda Aceh,
hutan mangrove mengalami pengurangan signifikan akibat kerusakan tsunami pada
Desember 2004, serta alih fungsi lahan pasca tsunami. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis perubahan tutupan hutan mangrove pada tahun 2004 (sebelum tsunami),
2015, dan 2024, serta mengkaji implikasinya terhadap pola ruang dalam RTRW Kota
Banda Aceh Tahun 2009-2029. Wilayah penelitian mencakup lima kecamatan di
pesisir, yaitu Jaya Baru, Meuraxa, Kuta Alam, Kuta Raja, dan Syiah Kuala. Data yang
digunakan berasal dari citra satelit Landsat 5, Landsat 8, dan Sentinel-2A, dengan
metode klasifikasi citra menggunakan Maximum Likelihood Classification, deteksi
perubahan menggunakan Post Classification Comparison, serta analisis overlay dan
deskriptif untuk membandingkan hasil klasifikasi citra dengan peruntukan mangrove
dalam RTRW. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas hutan mangrove pada tahun
2004 adalah sebesar 251,81 ha, kemudian berkurang menjadi 208,30 ha pada tahun
2015, dan kembali berkurang menjadi 153,34 ha pada tahun 2024. Selama periode
tahun 2004-2024, pengurangan hutan mangrove paling signifikan terjadi akibat
perubahan menjadi badan air seluas 139,57 ha (3,47%), yang disebabkan oleh dampak
tsunami dan diperparah oleh kegagalan rehabilitasi akibat ketidaksesuaian jenis
mangrove dengan karakteristik lahan serta tekanan ekologis dan antropogenik lainnya.
Sementara itu, pengurangan hutan mangrove menjadi lahan terbangun seluas 44,07 ha
(1,10%), mencerminkan peningkatan kebutuhan lahan di pesisir, terutama di
Kecamatan Meuraxa, Kuta Alam, dan Syiah Kuala. Dari total rencana peruntukan
hutan mangrove seluas 318,14 ha dalam dokumen RTRW, hanya 67,29 ha (21,15%)
yang terealisasi hingga tahun 2024. Hambatan utama dalam implementasi rencana ini
disebabkan oleh status kepemilikan lahan masyarakat dan keterbatasan anggaran
pemerintah untuk pembebasan lahan, yang masih diprioritaskan pada sektor lainnya.
Ketidaktercapaian luasan tersebut berpotensi melemahkan fungsi jasa ekosistem
pesisir secara berkelanjutan, termasuk perlindungan terhadap bencana, pengendalian
banjir, penyerapan karbon, peningkatan kualitas udara, serta pengembangan
ekowisata.

Mangrove forests are an important part of coastal ecosystems with ecological and economic functions, as well as roles in disaster mitigation. On the coast of Banda Aceh City, mangrove forests have experienced significant reduction due to tsunami damage in December 2004, as well as land conversion after the tsunami. This study aims to analyze changes in mangrove forest cover in 2004 (before the tsunami), 2015, and 2024, and to examine their implications for spatial patterns in the Banda Aceh City Spatial Plan 2009-2029. The research area covers five coastal sub-districts, namely Jaya Baru, Meuraxa, Kuta Alam, Kuta Raja, and Syiah Kuala. The data used comes from Landsat 5, Landsat 8, and Sentinel-2A satellite imagery, with image classification methods using Maximum Likelihood Classification, change detection using Post Classification Comparison, and overlay and descriptive analysis to compare the results of image classification with the designation of mangroves in the Spatial Plan. The results of the study showed that the area of mangrove forest in 2004 was 251.81 ha, then decreased to 208.30 ha in 2015, and decreased again to 153.34 ha in 2024. During the period 2004-2024, the most significant reduction in mangrove forest occurred due to changes to water bodies covering an area of 139.57 ha (3.47%), which was caused by the impact of the tsunami and exacerbated by the failure of rehabilitation due to the incompatibility of mangrove types with land characteristics and other ecological and anthropogenic pressures. Meanwhile, the reduction in mangrove forest to built-up land covering an area of 44.07 ha (1.10%), reflects the increasing need for land on the coast, especially in the Districts of Meuraxa, Kuta Alam, and Syiah Kuala. Of the total mangrove forest designation plan of 318.14 ha in the RTRW document, only 67.29 ha (21.15%) has been realized by 2024. The main obstacles in implementing this plan are caused by the status of community land ownership and limited government budget for land acquisition, which is still prioritized in other sectors. The failure to achieve this area has the potential to weaken the function of coastal ecosystem services sustainably, including disaster protection, flood control, carbon absorption, improving air quality, and developing ecotourism.

Citation



    SERVICES DESK