Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
PERANCANGAN PUSAT SENI DAN BUDAYA ACEH DI KOTA BANDA ACEH
Pengarang
ZAITUL HAFIDHA MUHAMMAD - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Elysa Wulandari - 196410191990022001 - Dosen Pembimbing I
Laila Qadri - 196910111997022003 - Dosen Pembimbing II
Nomor Pokok Mahasiswa
2104104010086
Fakultas & Prodi
Fakultas Teknik / Arsitektur (S1) / PDDIKTI : 23201
Penerbit
Banda Aceh : Fakultas Teknik., 2025
Bahasa
Indonesia
No Classification
725.804 2
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Kota Banda Aceh memiliki kekayaan seni dan budaya yang tinggi, namun belum memiliki fasilitas representatif yang mampu mewadahi kegiatan edukasi, pelestarian, dan promosi budaya secara terpadu. Seiring meningkatnya arus globalisasi dan jumlah kunjungan wisatawan setiap tahunnya, kebutuhan akan ruang yang mendukung aktivitas seni dan budaya menjadi semakin mendesak. Saat ini, sanggar-sanggar seni di Banda Aceh masih tersebar dan belum terkoordinasi dengan baik, sementara fasilitas yang tersedia, seperti Taman Budaya Aceh, dinilai belum memadai dari segi kapasitas dan fungsi.
Menanggapi permasalahan tersebut, perancangan Pusat Seni dan Budaya Aceh diusulkan dengan pendekatan arsitektur neo-vernakular. Pendekatan ini menggabungkan unsur arsitektur tradisional Aceh dengan prinsip desain modern, untuk menghasilkan bangunan yang fungsional, kontekstual, dan memiliki identitas visual yang kuat. Fasilitas ini diharapkan dapat menjadi ruang edukasi, kolaborasi, serta apresiasi budaya lintas generasi, sekaligus berkontribusi dalam pelestarian identitas budaya Aceh dan pengembangan pariwisata budaya di kawasan tersebut.
Kata Kunci: Pusat Seni dan Budaya, Banda Aceh, Pelestarian Budaya, Arsitektur Neo-Vernakular, Perancangan Arsitektur.
Banda Aceh is a city rich in art and cultural heritage, yet it lacks a representative facility that accommodates the integrated activities of education, preservation, and promotion of local culture. As globalization advances and the number of domestic and international tourists continues to increase, the need for a centralized space to support cultural activities becomes more urgent. Existing art studios in Banda Aceh remain scattered and uncoordinated, while the current facilities, such as the Taman Budaya Aceh, are considered inadequate in terms of capacity and functionality. In response to these challenges, this design proposes the development of an Aceh Arts and Culture Center in Banda Aceh using a neo-vernakular architectural approach. The concept combines traditional Acehnese architectural elements with modern design principles to create a cultural facility that is functional, contextually relevant, and visually iconic. This center is expected to serve as a platform for cultural education, collaboration, and appreciation, while also contributing to the preservation of Aceh’s cultural identity and the growth of cultural tourism. Keywords: Arts and Culture Center, Banda Aceh, Cultural Preservation, Neo-Vernacular Architecture, Architectural Design.
GEDUNG SENI BUDAYA GAYO DI ACEH TENGAH (AUFANISA GEMASIH, 2015)
PERANCANGAN MUSEUM SENI DAN BUDAYA ACEH DI BANDA ACEH (Akmal Mubaraq, 2024)
PERANCANGAN MUSEUM BUDAYA KOTA SUBULUSSALAM (Evi Sofia Hakim, 2024)
PUSAT SENI BUDAYA TAPAKTUAN TEMA : LOCALITY (Murdiana, 2017)
PERANCANGAN MUSEUM SEJARAH DAN BUDAYA KABUPATEN PIDIE (MUHAMMAD ILHAM ABRAR, 2020)