Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
KEBERADAAN PENYAKIT KARAT DAUN KOPI HEMILEIA VASTATRIX PADA BERBAGAI KETINGGIAN TEMPAT DI KABUPATEN ACEH TENGAH
Pengarang
Teguh Arkadinata - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Alfizar - 196004091985031004 - Dosen Pembimbing I
Lukman Hakim - 196005121986031004 - Dosen Pembimbing II
Nomor Pokok Mahasiswa
1905109010034
Fakultas & Prodi
Fakultas Pertanian / Proteksi Tanaman (S1) / PDDIKTI : 54295
Subject
Kata Kunci
Penerbit
Banda Aceh : Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala., 2025
Bahasa
No Classification
-
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Kabupaten Aceh Tengah merupakan salah satu daerah penghasil komoditi kopi terbesar dan menjadi sentra produksi kopi di Provinsi Aceh. Kopi menjadi komoditi ekspor unggulan daerah karena dapat mendongkrak perekonomian Kabupaten Aceh Tengah. Tanaman kopi sangat penting bagi masyarakat Aceh Tengah disebabkan perekonomian terpusat pada sektor pertanian dan perkebunan. Kabupaten Aceh Tengah memiliki ketinggian antara 850-1700 mdpl, dengan suhu harian berkisar 29 ºC. Dalam dekade terakhir saat ini terjadi perubahan iklim. Perubahan iklim meningkatkan suhu, yang berdampak pada peningkatan serangan hama dan penyakit yang sebelumnya hanya terjadi di ketinggian dibawah 500 mdpl. Salah satunya adalah kejadian serangan penyakit karat daun kopi yang disebabkan oleh jamur Hemileia vastatrix, yang menjadi patogen utama dengan kerugian signifikan dalam budidaya tanaman kopi, diperkirakan penurunan produksi tanaman kopi akibat penyakit ini sebesar 20-70%.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari ketinggian tempat terhadap keberadaan penyakit karat daun kopi. Penelitian ini dilakukan di beberapa level ketinggian perkebunan kopi Arabika Gayo di Kabupaten Aceh Tengah, yaitu kelompok 1 (800-1000 mdpl), kelompok 2 (1000-1200 mdpl), kelompok 3 (1200-1400 mdpl), kelompok 4 (1400-1600 mdpl), dan kelompok 5 (1600-1800 mdpl).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyakit karat daun kopi H. vastatrix dapat menyerang tanaman kopi arabika dari ketinggian 800 mdpl sampai dengan 1800 mdpl. Kejadian penyakit karat daun kopi tertinggi diketahui pada ketinggian 800-1000 mdpl yaitu sebesar 81,18% dan persentase kejadian penyakit karat daun kopi terendah pada ketinggian 1400-1600 mdpl sebesar 76,38%. Ketinggian tempat berbeda tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap kejadian serangan H. vastatrix. Rata-rata persentase keparahan penyakit karat daun kopi pada ketinggian 1600-1800 mdpl sebesar 51,88% dan merupakan nilai tertinggi dibandingkan dengan ketinggian tempat lainnya. Ketinggian 1600-1800 mdpl berbeda sangat nyata dengan ketinggian lainnya terhadap keparahan penyakit karat daun kopi. Hal ini semakin membuktikan bahwa ketinggian tempat tidak memiliki pengaruh terhadap kejadian dan keparahan penyakit karat daun kopi. Kejadian dan keparahan penyakit karat daun kopi diduga lebih dipengaruhi perubahan iklim dan anomali cuaca terutama kenaikan suhu dengan suhu rata-rata harian mencapai 29-34ºC, budidaya tanaman, juga dipengaruhi oleh faktor sinar matahari, air, naungan dan angin yang mendukung perkembangan cendawan H. vastatrix.
Coffee leaf rust (CLR), caused by Hemileia vastatrix, is a major disease threatening Arabica coffee production globally. In Indonesia, Particularly in Aceh Tengah, a key highland coffee-producing region, the impact of altitude on CLR intensity remains poorly documented. This study aimed to evaluate the incidence and severity of CLR across five elevation ranges (800–1,800 masl) in Arabica coffee farms. A total of 25 farms were sampled using a randomized block design, with 36 leaves assessed per tree across the canopy. Disease incidence and severity were quantified visually using a modified scale. Results showed that CLR was present at all elevation groups, with incidence ranging from 76% to 81%, and no statistically significant difference across groups. In contrast, disease severity showed significant variation (p < 0.05), with the highest values observed in the highest elevation group (1,600–1,800 masl), averaging 51.88%. Lower elevation groups displayed moderate severity levels (35–40%). These findings indicate that while elevation does not affect CLR infection frequency, it significantly influences lesion development and tissue damage. Microclimatic factors such as prolonged leaf wetness, fog, and cooler temperatures at higher elevations may promote sporulation and disease progression, despite a stable incidence rate. This study emphasizes the need for site-specific CLR management strategies, with intensified control measures in high altitude zones. The results serve as a baseline for disease monitoring and resource prioritization in Indonesia's highland coffee systems.
KEBERADAAN PENYAKIT KARAT DAUN KOPI HEMILEIA VASTATRIX PADA BERBAGAI KETINGGIAN TEMPAT DI KABUPATEN ACEH TENGAH (Teguh Arkadinata, 2025)
PENGARUH KERAPATAN NAUNGAN TERHADAP INFEKSI KARAT DAUN (HEMILEIA VASTATRIX) PADA TANAMAN KOPI ARABIKA (Marniyati, 2024)
PENGARUH KETINGGIAN TEMPAT YANG BERBEDA TERHADAP INSIDENSI PENYAKIT AKAR TANAMAN KOPI ARABIKA (COFFEA ARABICA) DI KABUPATEN ACEH TENGAH (Sutan Maulana Yusuf, 2024)
ANALISIS PRODUKSI KOPI ARABIKA PADA BERBAGAI KETINGGIAN TEMPAT USAHA TANI KOPI DI KABUPATEN ACEH TENGAH (AHYAL MAULIDI, 2015)
PENGARUH KETINGGIAN TEMPAT TUMBUH DAN VARIETAS TERHADAP MUTU FISIK, FISIKO-KIMIA, DAN CITA RASA KOPI ARABIKA GAYO (Nur Al Qadry, 2017)