<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="161105">
 <titleInfo>
  <title>HUBUNGAN SELF-DISCLOSURE DENGAN QUARTER-LIFE CRISIS PADA DEWASA AWAL</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Agnes Cristin Ginting</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Unsyiah</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-disclosure dengan quarter-life crisis pada individu dewasa awal. Quarter-life crisis merupakan periode krisis emosional yang umum terjadi pada usia 20–30 tahun, yang ditandai dengan kebingungan identitas, kecemasan masa depan, dan tekanan sosial. Salah satu faktor yang dapat membantu individu mengatasi krisis ini adalah kemampuan untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan secara terbuka, atau yang disebut dengan self-disclosure. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan jumlah sampel sebanyak 344 responden berusia 20–35 tahun di Kota Banda Aceh. Instrumen yang digunakan adalah Quarter-Life Crisis Scale dan Revised Self-Disclosure Scale (RSDS). Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara self-disclosure dan quarter-life crisis (r = -0,461, p &lt; 0,001). Artinya, semakin tinggi tingkat keterbukaan diri seseorang, maka semakin rendah kecenderungan individu mengalami quarter-life crisis. Temuan ini menunjukkan pentingnya pengembangan keterampilan komunikasi interpersonal sebagai bagian dari strategi koping dalam menghadapi tantangan masa dewasa awal.&#13;
Kata kunci: self-disclosure, quarter-life crisis, dewasa awal&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>161105</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-07-14 23:44:59</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-07-15 08:59:56</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>