<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="161031">
 <titleInfo>
  <title>ANALISIS KARAKTERISTIK KOTA BANDA ACEH DAN SEKITARNYA MENGGUNAKAN METODE URBAN FORM METRICS</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Riska Dwi Rahmadani</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher></publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Pertumbuhan pesat pasca-rekonstruksi di Kota Banda Aceh telah mendorong konversi lahan tidak terbangun menjadi kawasan terbangun, terutama ke arah timur dan selatan serta meluas hingga ke wilayah Kabupaten Aceh Besar. Perubahan penggunaan lahan ini memengaruhi morfologi dan pola spasial kota, yang menunjukkan ketidaksesuaian dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. Adaptasi terhadap dinamika spasial tersebut dapat dianalisis melalui bentuk perkotaan (urban form) yang mencerminkan cara kota dibangun dan diorganisasikan seiring perubahan kebutuhan lahan. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab celah penelitian terkait bentuk kota di Banda Aceh dan kawasan sekitarnya dengan menerapkan pendekatan analisis bentuk kota berbasis metrik spasial menggunakan perangkat lunak ArcGIS dan Metropolitan Form Analysis (MFA) toolbox yang dikembangkan oleh kolaborasi antara City Form Lab, World Bank, dan SMART FM-MIT. Data yang digunakan meliputi penggunaan lahan, jejak bangunan, dan data kependudukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari total luas wilayah sebesar 111,46 km² atau 57,11% merupakan lahan terbangun. Bentuk kota menunjukkan tingkat keterhubungan spasial yang tinggi, ditunjukkan oleh rendahnya nilai indeks ketidakterhubungan sebesar 0,74 dengan cakupan lahan terbangun dalam convex hull mencapai 73%, menandakan pembangunan yang terkonsentrasi tanpa banyak lompatan spasial.  Meski demikian, struktur kota masih didominasi satu pusat aktivitas utama di Baiturrahman dan Kuta Alam dengan tingkat polisentrisitas rendah dan potensi pengembangan fisik hanya 26%. Tingkat keragaman penggunaan lahan juga rendah, dengan indeks maksimum 0,21. Analisis selanjutnya menunjukkan adanya kesenjangan antara bentuk kota aktual dan arahan rencana tata ruang di wilayah penelitian, terutama pada distribusi pusat aktivitas, integrasi fungsi lahan, serta ketidakseimbangan antara kekompakan bangunan dengan sebaran penduduk dan pekerjaan mencerminkan rendahnya integrasi fungsi sosial-ekonomi. Hasil penelitian ini menegaskan perlunya intensifikasi pemanfaatan ruang terbangun, penguatan pusat aktivitas baru, serta pengendalian ekspansi ke wilayah yang sensitif secara ekologis guna mendukung pengembangan kota yang lebih terkendali dan berkelanjutan.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>161031</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-07-14 21:39:49</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-07-15 02:07:27</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>