<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="160809">
 <titleInfo>
  <title>DETEKSI CYBERBULLYING YANG BERSIFAT RNMISOGINIS PADA KOMENTAR TIKTOK RNMENGGUNAKAN MODEL INDOBERT</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Laila Asrin</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas MIPA (S1)</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Perkembangan media sosial seperti TikTok telah memberikan ruang ekspresi &#13;
yang luas bagi penggunanya, namun juga memunculkan fenomena negatif seperti &#13;
cyberbullying, khususnya yang bersifat misoginis. Komentar-komentar yang &#13;
merendahkan perempuan semakin marak dan sering luput dari pengawasan. Penelitian &#13;
ini bertujuan membangun model klasifikasi berbasis IndoBERT untuk mendeteksi &#13;
komentar cyberbullying dan misoginis pada platform TikTok. Proses klasifikasi &#13;
dilakukan dalam dua tahap, yaitu tahap pertama untuk mengidentifikasi komentar &#13;
cyberbullying, dan tahap kedua untuk mendeteksi unsur misogini pada komentar yang &#13;
telah diklasifikasi sebagai cyberbullying. Data diperoleh melalui web scraping, &#13;
kemudian diproses dan diberi label sesuai kategori. Hasil menunjukkan bahwa &#13;
IndoBERT mengungguli model machine learning konvensional dan pretrained model &#13;
lainnya, dengan akurasi 90% dan F1-score 89% untuk klasifikasi cyberbullying, serta &#13;
akurasi 85% dan F1-score 74% untuk klasifikasi misogini. Model yang dibangun &#13;
diimplementasikan pada komentar dalam beberapa tren TikTok. Hasil analisis &#13;
distribusi menunjukkan tingginya proporsi komentar cyberbullying, dan di antaranya &#13;
terdapat komentar yang mengandung unsur misoginis. Selain itu, analisis temporal &#13;
menunjukkan waktu komentar pada video TikTok meningkat pada malam hari, &#13;
sementara komentar dengan unsur cyberbullying terlihat mendominasi tanpa terikat &#13;
pada waktu tertentu. Temuan ini berkontribusi pada pengembangan sistem deteksi &#13;
otomatis sebagai alat bantu moderasi konten, guna menciptakan ruang digital yang &#13;
lebih aman dan bebas dari kekerasan verbal terhadap perempuan.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>160809</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-07-14 15:02:30</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-07-14 15:07:41</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>