<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="160785">
 <titleInfo>
  <title>PERANCANGAN PANTI JOMPO DI KOTA BANDA ACEH</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Muhammad Sulthany Aqsha</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Teknik</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Perancangan Panti jompo di Kota Banda Aceh hadir untuk merespon pertumbuhan angka penduduk lansia di Kota Banda Aceh yang semakin meningkat ditiap tahunnya. Peningkatan jumlah lansia ini tentu menciptakan fenomena baru yang sering terjadi yaitu penelantaran lansia di akibatkan oleh konflik internal keluarga, permasalahan ekonomi dan lain-lainnya. Berdasarkan peraturan pemerintah  dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia pada Pasal 4 yang mengatakan bahwa upaya peningkatan kesejahteraan sosial lanjut usia bertujuan untuk memperpanjang usia harapan hidup dan masa produktif. Lewat undang-undang tersebut maka dicetuskan sebuah lembaga Panti Jompo yang diberi tugas untuk mengayomi dan mengakomodir para lansia yang mengalami penelantaran. &#13;
Desain Panti Jompo diharapkan dapat memenuhi kebutuhan lansia terutama permasalahan kronis seperti psikologis dan mental. Pendekatan arsitektur perilaku merupakan respon yang tepat dalam menunjang para lansia dalam menghadapi permasalahan ini. Perilaku lansia dapat dikatakan memiliki kekhususan yang lebih spesifik untuk dipenuhi dari bangunan hunian biasanya, seperti aspek keselamatan berupa penggunaan railling, jalur ramp, akses vertikal yang mudah dan kenyamanan berupa pencahayaan alami, penggunaan warna yang mendukung, tersedia area rekreatif dan lain-lainnya. Penggabungan fungsi dan pendekatan arsitektur perilaku dapat menciptakan lingkungan yang menyehatkan para lansia. lingkungan yang sehat diharapkan memberikan kembali nilai dan kepercayaan diri bari para lansia sehingga mereka tidak merasa tersisihkan dari instrumen sosial masyarakat. Selain bagi para penghuni sendiri, hal ini juga diharapkan memberikan pengaruh positif terhadap persepsi masyarakat lokal dalam melihat panti jompo.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>NURSING HOMES</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>HEALTH CARE FACILITIES - ARCHITECTURE</topic>
 </subject>
 <classification>725.51</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>160785</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-07-14 14:39:31</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-07-15 11:07:48</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>