<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="160611">
 <titleInfo>
  <title>KONVERSI  LAHAN  PERTANIAN  MENJADI  NON  PERTANIAN  DAN KAITANNYA DENGAN KETIMPANGAN PENDAPATAN MASYARAKAT DI KOTA SABANG</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>chairil Anwar</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>prog. studi magister pertanian</publisher>
   <dateIssued></dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Theses</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Lahan merupakan  sumberdaya  alam yang tidak  dapat  diperbaharui,  oleh karena itu  pemanfaatannya hams  dapat  meningkatkan  kesejahteraan  masyarakat.   Agar  tidak terjadi kesalahan  dalam penggunaan  lahan diperlukan  data  dan informasi  yang tertuang di  dalam  Rencana  Tata  Ruang  Wilayah  Kota (RTRWK).    Akibat  dari  pertambahan penduduk   dengan  berbagai  ragam pola  sosial ekonomi  menyebabkan perubahan  pola penggunaan lahan.  Lahan-lahan pertanian bisa menjadi perumahan serta penggunaan lainnya,  hutan bisa  dirambah  menjadi areal perladangan  bebas  dan  penebangan  kayu secara  liar.  Terjadinya perubahan  penggunaan  lahan  dari   pertanian  ke  non pertanian mengakibatkan lahan pertanian semakin menciut.&#13;
•      Penelitian    ini   bertujuan    mengevaluasi    faktor-faktor    yang    mempengaruhi&#13;
konversi   lahan  pertanian menjadi  non  pertanian  dan  melihat   sampai     sejauh   mana menyebabkan terjadinya ketimpangan pendapatan masyarakat.&#13;
Hipotesis  yang diajukan  dalam penelitian ini adalah (1) konversi lahan pertanian •&#13;
#r&#13;
menjadi non  pertanian  dipengaruhi  oleh jumlah  tanggungan,  pendapatan,  pendidikan&#13;
petani    dan   harga  tanah,   (2)   konversi    lahan  pertanian    menjadi  non   pertanian menyebabkan ketimpangan pendapatan petani menjadi lebih besar.&#13;
Penelitian ini dilaksanakan di Kota Sabang, yang terdiri dari 2 kecamatan dan 18&#13;
desa.  Dasar  pertimbangan   dalam  pemilihan  tempat  penelitian   adalah  karena  di Kota Sabang  lahan  pertanian  banyak  beralih  fungsi  menjadi    non   pertanian.    Penelitian lapangan berlangsung sejak Oktober  2000 sampai dengan Maret 2001.&#13;
Populasi   dalam penelitian   ini  adalah petani   yang   telah   mengalihkan   lahan&#13;
pertaniannya kepada  kegiatan  non pertanian  ataupun  telah mengalihkan  haknya  kepada pihak  lain yang  digunakan  di luar kegiatan  pertanian.   Pengambilan contoh  dilakukan dengan menggunakan  metode  Two Stage Cluster Sampling.   Dari  2 kecamatan  diambil secara  acak  20%  desa,  sehingga  tiap-tiap  kecamatan  diwakili  oleh  2  desa,  dengan pertimbangan   di  desa yang menjadi  contoh  banyak   terjadi  konversi lahan  pertanian menjadi  non  pertanian.  Kemudian  diambil  secara   acak  25%  petani   dari  tiap  desa, sehingga jumlah petani contoh yang terpilih sebanyak  94 petani,    yang terdiri dari desa Paya Seunara 46 petani, I Boih 6 petani, Jaboi 11 petani dan Paya 31 petani.&#13;
Pengumpulan  data dalam penelitian ini berupa  data  skunder  yang diperoleh  dari&#13;
instansi  terkait  serta  data  primer  yang  diperoleh  dari  wawancara dengan  responden. Wawancara dilakukan  dengan  memakai  kuisioner  sebagai    acuan  pertanyaan  kepada masyarakat.&#13;
Untuk  menguji  kebenaran  hipotesis  yang  diajukan,  maka  dibutuhkan    metode&#13;
analisis yang spesifik, sebagai berikut :&#13;
Hipotesis Pertama : Pengujian dilakukan dengan menggunakan analisis regresi linier berganda, dimana bentuk umum dari regresi linier berganda  adalah:&#13;
Y=    ao  + a X +'a  X+ a X + a4 X + e&#13;
Hipotesis  Kedua   :  Untuk  melihat  bagaimana  ketimpangan  pendapatan   apabila lahan pertanian   dialihkan   penggunaannya   menjadi   non   pertanian   dengan   menggunakan persamaan Gini Ratio  :&#13;
∑pi(Qi-&#13;
&#13;
10000&#13;
&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata umur, tingkat pendidikan, pengalaman,  dan jumlah tanggungan petani di Kota  Sabang adalah  48,99 tahun,     7,05 tahun (belum menamatkan SLTP),  23,78 tahun, dan 4 jiwa.&#13;
Dari hasil perhitungan menunjukkan bahwa hubungan jumlah tanggungan, pendapatan,  dan pendidikan petani serta harga tanah terhadap  luas lahan pertanian yang&#13;
terkonversi  diperoleh persamaan regresi linier berganda sebagai berikut :&#13;
Y=   4386,1439  -  66,9094  X  + 0,0011  X,-  256,4476  X%  + 0,7339  X,&#13;
Koefisien  determinasi  (R)  diperoleh  sebesar  54,36  %.    Angka  ini bermakna  bahwa&#13;
konversi   lahan   pertanian   kepada   non   pertanian   mampu   dijelaskan   oleh  jumlah tanggungan, pendapatan, pendidikan petani dan harga tanah sebesar 54,36 % sedangkan&#13;
45,64 % lagi ditentukan oleh faktor lain yang tidak diuji.&#13;
•   Dari  hasil pengujian  diperoleh nilai F sebesar  = 26,5,    sedangkan  niiai F pada tingkat kepercayaan  95 % adalah 2,47.      Ini berarti bahwa  luas  lahan pertanian yang&#13;
terkonversi   menjadi  non  pertanian  dipengaruhi  oleh jumlah  tanggungan,  pendapatan, pendidikan petani dan harga tanah.&#13;
Hasil analisis  menunjukan nilai t untuk masing-masing variabel  (X), (X),  (X),&#13;
dan (X2) adalah 0,62; 1,57; 2,47 dan 10,16, sedangkan pada tingkat kepercayaan  95 %&#13;
adalah  1,67.    Hal  ini berarti  pendidikan  petani  dan  harga  tanah    berpengaruh  nyata&#13;
terhadap  konversi  lahan pertanian mejadi non pertanian ,  sedangkan faktor yang lainnya&#13;
tidak berpengaruh terhadap konversi lahan pertanian menjadi non pertanian.&#13;
Rata-rata pendapatan petani sebelum dan sesudah terjadinya konversi lahan pertanian     menjadi    non    pertanian    adalah    sebesar    Rp.     515.851,08/bulan    dan Rp.  445.606,38/bulan  sehingga terjadi penurunan  pendapatan  petani  sebesar          Rp.&#13;
72.244,70/bulan (14 %).&#13;
Total pendapatan petani  sebelum  dan  sesudah  terjadi  konversi  lahan pertanian menjadi  non  pertanian   sebesar     Rp.  48.490.000,-   dan Rp.  41.887.000,-.     Jumlah pendapatan   yang  diterima  oleh  40  % petani  kelompok  rendah  sebelum  dan  sesudah&#13;
terjadi konversi lahan pertanian menjadi non pertanian adalah sebesar Rp. 11.120.000,• (22,93 %),  dan Rp. 8.472.000,- (20,23 %), keduanya  dapat digolongkan kepada tingkat ketimpangan  rendah.    Namun  demikian dapat  disebutkan  bahwa  sesudah  terjadinya konversi  lahan pertanian  menjadi non pertanian  menyebabkan  terjadinya  ketimpangan pendapatan  petani sebesar 2,70 %.&#13;
Nilai Gini Ratio petani sebelum dan sesudah terjadinya konversi lahan pertanian&#13;
menjadi non pertanian  adalah sebesar  0,25 dan 0,28, tetapi masih   berada pada tingkat ketimpangan  rendah.    Jadi  sesudah  terjadinya  konversi  lahan  pertanian  menjadi non pertanian   akan   menyebabkan  terjadinya   ketimpangan   yang   lebih   besar.   Dengan&#13;
menggunakan   Kurva  Lorenz,  ketimpangan   pendapatan   petani   sebelum   terjadinya&#13;
%&#13;
konversi   lahan  pertanian   menjadi  lahan  non  pertanian   lebih   merata   dibandingkan&#13;
ketimpangan pendapatan sesudah terjadinya konversi lahan pertanian menjadi non pertanian.&#13;
Konversi   lahan pertanian   menjadi   non   pertanian   dipengaruhi   oleh  jumlah&#13;
tanggungan, pendapatan,  pendidikan petani dan   harga tanah.   Secara serempak jumlah&#13;
tanggungan, pendapatan, dan pendidikan petani serta harga tanah dapat menjelaskan terhadap konversi lahan pertanian menjadi non pertanian sebesar  54,36 %, sedangkan&#13;
45,64  % lagi ditentukan oleh faktor Iain• di luar  model  ini.    Secara parsial hanya pendidikan petani dan harga tanah yang berpengaruh nyata  terhadap konversi  lahan pertanian menjadi non pertanian, sedangkan faktor lainnya tidak berpengaruh terhadap konversi lahan pertanian menjadi non pertanian. Konversi lahan pertanian menjadi non pertanian menyebabkan  terjadinya  ketimpangan  pendapatan    yang  lebih besar  pada pendapatan petani, namun masih berada pada ketimpangan pendapatan rendah.&#13;
Perlu  ada  peraturan  daerah  tentang  konversi  lahan  pertanian  menjadi  non&#13;
pertanian, sehingga tidak dikorbankan lahan pertanian yang potensial tetapi lebih diarahkan pada lahan-laian  marginal.    Dalam pengalihan lahan petani tidak dihargai&#13;
dalam bentuk uang tetapi dalam bentuk saham.  Lahan-lahan pertanian yang ada perlu&#13;
diintensifkan   pengelolaannya    agar   pendapatan    petani   tidak    menurun.    Perlu&#13;
dikembangkan pengelolaan  lahan-lahan yang  terlantar  sebagai  pengganti  dari lahan pertanian yang berkurang.   Diharapkan adanya  penelitian lebih lanjut  untuk melihat faktor-faktor lain diluar variabel yang diteliti dalam model penelitian ini .&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>160611</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-07-14 10:56:20</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-07-14 10:56:56</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>