PERBANDINGAN PENDAPATAN NELAYAN JARING INSANG DENGAN ALAT TANGKAP ALTERNATIF BUBU DALAM UPAYA MITIGASI BYCATCH HIU DAN PARI DI TPI LHOK KUALA DAYA, ACEH JAYA | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    KARYA KERJA ILMIAH

PERBANDINGAN PENDAPATAN NELAYAN JARING INSANG DENGAN ALAT TANGKAP ALTERNATIF BUBU DALAM UPAYA MITIGASI BYCATCH HIU DAN PARI DI TPI LHOK KUALA DAYA, ACEH JAYA


Pengarang

Delvi Mahrani Luthfiansyah - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Ratna Mutia Aprilla - 198804222019032016 - Dosen Pembimbing I
Inda Mardhatillah - 199801082024062003 - Dosen Pembimbing II



Nomor Pokok Mahasiswa

2111103010048

Fakultas & Prodi

Fakultas Kelautan dan Perikanan / Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan (S1) / PDDIKTI : 54246

Penerbit

Banda Aceh : FAKULTAS KELAUTAN DAN PERIKANAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA., 2025

Bahasa

Indonesia

No Classification

338.372 7

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Jaring insang merupakan alat tangkap utama nelayan di TPI Lhok Kuala Daya, namun penggunaannya menimbulkan bycatch hiu dan pari yang dilindungi, sehingga berdampak pada ekosistem laut dan keberlanjutan ekonomi nelayan. Penelitian ini bertujuan membandingkan nilai jual dan masa pakai jaring insang dengan bubu, serta mengukur efektivitas bubu dalam mitigasi bycatch. Penelitian dilakukan pada Oktober–November 2024 menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif melalui wawancara dan observasi lapangan. Analisis dilakukan terhadap komposisi bycatch, nilai jual tangkapan, dan masa pakai alat. Hasil menunjukkan bahwa jaring insang menghasilkan bycatch hiu dan pari sebesar 56,6 kg, sementara bubu tidak menghasilkan bycatch. Nilai jual tangkapan bubu sebesar Rp15.752.200 lebih tinggi dari jaring insang sebesar Rp10.078.800, meskipun jumlah tangkapan hampir sama. Masa pakai bubu juga lebih lama, yaitu sembilan bulan, dibandingkan jaring insang yang hanya dua minggu. Dengan hasil tersebut, bubu dinilai lebih selektif, ramah lingkungan, dan menguntungkan secara ekonomi. Oleh karena itu, alat tangkap bubu direkomendasikan sebagai alternatif berkelanjutan bagi nelayan di Aceh Jaya.

Gillnets are the primary fishing gear used by fishermen at TPI Lhok Kuala Daya; however, their use leads to bycatch of protected species such as sharks and rays, affecting both marine ecosystems and fishermen's long-term income. This study aims to compare the market value and durability of gillnets and fish traps (bubu), and to assess the effectiveness of bubu in mitigating shark and ray bycatch. The research was conducted in October–November 2024 using a descriptive quantitative approach, with data collected through interviews and field observations. Analysis focused on bycatch composition, market value of the catch, and gear durability. Results show that gillnets produced 56.6 kg of shark and ray bycatch, while bubu had none. The total market value of bubu catches reached IDR 15,752,200, higher than gillnets at IDR 10,078,800, despite similar catch volumes. Additionally, bubu had a longer lifespan of nine months compared to gillnets, which only lasted two weeks. These findings indicate that bubu is more selective, environmentally friendly, and economically beneficial. Therefore, bubu is recommended as a sustainable alternative fishing gear for fishermen in Aceh Jaya.

Citation



    SERVICES DESK