<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="160265">
 <titleInfo>
  <title>VISIBILITAS PEREMPUAN DI RUANG PUBLIK (RELASI GENDER DI WARUNG KOPI BANDA ACEH)</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Raihan Syakira</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-Universitas Syiah Kuala</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>ABSTRAK&#13;
Warung kopi sebagai ruang sosial di Aceh yang selama ini identik dengan dominasi&#13;
laki-laki. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kehadiran perempuan di warung&#13;
kopi semakin terlihat, baik untuk bersosialisasi, bekerja, maupun sekedar bersantai.&#13;
Kehadiran perempuan di warung kopi kerap menimbulkan stigma negatif di tengah&#13;
masyarakat, seperti dianggap tidak sopan dan melanggar norma adat budaya Aceh.&#13;
Stigma ini menjadi salah satu hambatan sosial yang membuat perempuan harus&#13;
lebih berhati-hati saat mengakses ruang publik. Penelitian ini bertujuan untuk&#13;
menganalisis bentuk interpretasi masyarakat terhadap kehadiran perempuan di&#13;
warung kopi serta mengkaji konsep warung kopi yang ramah terhadap perempuan.&#13;
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data&#13;
melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teori yang digunakan meliputi&#13;
teori ruang publik Jurgen Habermas, konsep kebutuhan gender dari Maxine&#13;
Molyneux, serta konsep pergeseran budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa&#13;
visibilitas perempuan di warung kopi Banda Aceh diterima dengan syarat, seperti&#13;
berpakaian sopan dan menjaga sikap. Warung kopi dalam penelitian ini dibedakan&#13;
menjadi tiga kategori: tradisional, semi- modern, dan modern. Konsep warung kopi&#13;
ramah gender ditentukan oleh ketersediaan fasilitas yang mendukung kenyamanan&#13;
dan keamanan perempuan, seperti toilet terpisah, mushola, pencahayaan yang baik,&#13;
dan desain ruang. Terdapat perbedaan pandangan antara orang tua dan anak muda,&#13;
orang tua masih memandang kehadiran perempuan di warung kopi sebagai hal&#13;
negatif, karena tidak sesuai dengan norma adat dan budaya Aceh. Sedangkan&#13;
generasi muda, mereka memandang bahwa warung kopi adalah ruang publik yang&#13;
seharusnya bisa diakses secara setara oleh semua orang tanpa memandang gender.&#13;
Kehadiran perempuan di warung kopi tidak lagi dianggap hal yang tabu. Khususnya&#13;
dikalangan generasi muda, kesadaran tentang kesetaraan gender semakin kuat.&#13;
Banyak dari mereka sudah paham bahwa laki-laki dan perempuan punya hak dan&#13;
kesempatan yang setara. &#13;
Kata kunci: Visibilitas, Ruang Publik, Warung Kopi, Gender, Banda Aceh&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>160265</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-07-11 16:00:42</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-07-14 11:24:18</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>