<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="159911">
 <titleInfo>
  <title>PEMETAAN RUMAH KOLONIAL SEBAGAI UPAYA KONSERVASI WARISAN BUDAYA DI BANDA ACEH</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>ANISA SALSABILLA</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Teknik (S1)</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Rumah kolonial merupakan salah satu bentuk bukti sejarah yang mencerminkan sejarah panjang perlawanan Rakyat Aceh melawan kolonialisme Belanda dan perkembangan arsitektur yang terjadi di Banda Aceh. Namun, banyak dari rumah ini telah mengalami kerusakan hingga pembongkaran. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan sebaran rumah kolonial di Kota Banda Aceh dan mengidentifikasi kondisi eksisting rumah-rumah tersebut sebagai langkah awal konservasi warisan budaya arsitektural. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui observasi langsung, wawancara, dokumentasi visual, serta pemetaan digital berbasis Google Maps. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumah kolonial tersebar 46 titik di empat kecamatan utama, dengan Kecamatan Baiturrahman sebagai jumlah titik terbanyak. Pola sebaran ini berkaitan erat dengan sistem lini konsentrasi Belanda sebagai strategi pertahanan menghadapi perlawanan Rakyat Aceh, di mana rumah-rumah dibangun mengelilingi fasilitas vital. Dibandingkan dengan peta kolonial masa lalu, terlihat bahwa jumlah dan persebaran rumah kolonial kini jauh berkurang. Kondisi eksisting sebagian rumah masih mempertahankan elemen arsitektur kolonial seperti atap pelana, jendela krepyak, gevel, dan kolom kayu. Namun, sebagian lainnya mengalami alih fungsi, perubahan elemen fisik, bahkan ada rumah yang kondisinya terbengkalai. Penelitian ini menghasilkan peta digital rumah kolonial yang dapat dijadikan sebagai data awal bagi pelestarian bangunan bersejarah dan sekaligus sebagai media edukatif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap arsitektur kolonial.&#13;
Kata kunci: rumah kolonial, konservasi, arsitektur kolonial, pemetaan digital</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>CULTURE</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>COLONIAL ARCHITECTURE</topic>
 </subject>
 <classification>724.1</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>159911</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-07-10 23:00:22</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2026-02-04 15:31:39</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>