<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="159653">
 <titleInfo>
  <title>PENGARUH PEMBERIAN SALEP EKSTRAK ETANOL DAUN KIRINYU (CHROMOLAENA ODORATA L.) TERHADAP GAMBARAN HISTOLOGIS PADA LUKA SAYAT MENCIT (MUS MUSCULUS L.) YANG TERINFEKSI STAPHYLOCOCCUS AUREUS</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>SELVI AZKHIYA</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas MIPA (S1)</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Penelitian ini bertujuan untuk mengukur ketebalan dermis dan kepadatan kolagen pada luka sayat yang terinfeksi Staphylococcus aureus setelah pengolesan salep EEDK dengan berbagai konsentrasi. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas 5 perlakuan dan 5 ulangan. Pada penelitian ini digunakan 25 ekor hewan coba berupa mencit jantan. Perlakuan terdiri atas pemberian basis salep (P0), salep gentamisin (P1), salep ekstrak etanol daun kirinyu (Chromolaena odorata L.) (EEDK) 5% (P2), salep EEDK 10% (P3) dan salep EEDK 15% (P4). Metode penelitian ini melibatkan pencukuran rambut dorsal mencit, sterilisasi, anestesi dan pembuatan luka sayat dengan surgical blades no. 15. Luka kemudian dikontaminasi dengan Staphylococcus aureus dan diberi salep yang diuji. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis uji ANOVA dan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian salep EEDK (P2, P3 dan P4) terbukti meningkatkan ketebalan dermis kulit secara signifikan dibandingkan kelompok perlakuan P0 dan P1. Namun, tidak ada perbedaan pengaruh antar konsentrasi 5% (P2), 10% (P3), dan 15% (P4) terhadap ketebalan dermis. Pada kepadatan kolagen, salep EEDK dengan konsentrasi 10% (P3) dan 15% (P4) menunjukkan hasil paling optimal dibandingkan konsentrasi 5% (P2). Manfaat dari penelitian ini adalah potensi pengembangan salep EEDK sebagai alternatif terapi topikal untuk mempercepat penyembuhan luka terinfeksi, khususnya dalam meningkatkan regenerasi jaringan dermis kulit dan kepadatan kolagen, yang dapat mendukung aplikasi klinis di masa depan.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>159653</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-07-10 12:03:47</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-07-10 12:08:18</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>