<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="159505">
 <titleInfo>
  <title>POLA SISTEM ZONASI FASILITAS PENDIDIKAN BERDASARKAN KETERJANGKAUAN LAYANAN TERHADAP PERMUKIMAN (STUDI KASUS:</title>
  <subTitle>KOTA LANGSA)</subTitle>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Farah Faradiba</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Teknik (S1)</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Kebijakan zonasi dalam sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) bertujuan &#13;
untuk mewujudkan pemerataan akses pendidikan. Namun, di Kota Langsa, pendekatan &#13;
zonasi yang masih berbasis batas administratif belum mempertimbangkan aspek &#13;
spasial keterjangkauan antara permukiman dan fasilitas pendidikan, sehingga memicu &#13;
ketimpangan akses. Penggunaan jarak sebagai dasar zonasi menjadi krusial guna &#13;
memastikan siswa dapat menjangkau sekolah dengan berjalan kaki. Penelitian ini &#13;
bertujuan untuk menganalisis ketersediaan dan keterjangkauan layanan fasilitas &#13;
pendidikan negeri jenjang SMP dan SMA terhadap permukiman, serta &#13;
membandingkan pola zonasi SMP dan SMA negeri berdasarkan tiga pendekatan &#13;
spasial, yaitu Thiessen Polygon, Buffer, dan Network Analysis (Service Area). Masing&#13;
masing metode diolah melalui Sistem Informasi Geografis (SIG) dan dimodelkan &#13;
secara otomatis dengan Model Builder. Hasil penelitian menunjukkan kebutuhan &#13;
fasilitas pendidikan pada jenjang SMPN dan SMAN Kota Langsa belum mencukupi &#13;
dan dibutuhkan penambahan 26 SMPN dan 36 SMAN, selain itu keterjangkauan &#13;
layanan permukiman berdasarkan jarak ideal belum mampu melayani seluruh titik &#13;
permukiman, kemudian keterjangkauan layanan menurut waktu tempuh 40 menit, &#13;
permukiman yang terlayani pada jenjang SMPN mencapai 96,51 % sedangkan pada &#13;
jenjang SMAN, permukiman yang terlayani adalah 79,25%. Selanjutnya, cakupan &#13;
permukiman pola zonasi pada jenjang SMPN dengan persentase tertinggi diperoleh &#13;
dari Thiessen Polygon (98,21%), diikuti Service Area (79,63%) dan Buffer (75,37%). &#13;
Sementara pada jenjang SMAN, Buffer menunjukkan cakupan tertinggi (88,50%), &#13;
disusul Service Area (79,21%) dan Thiessen Polygon (71,62%). Metode spasial yang &#13;
mempertimbangkan jaringan jalan dan jarak tempuh terbukti lebih representatif &#13;
dibandingkan zonasi administratif. Selain menghasilkan peta zonasi yang lebih akurat, &#13;
integrasi Model Builder juga mempermudah replikasi dan efisiensi analisis bagi &#13;
perencanaan pendidikan berbasis data.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>159505</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-07-10 00:36:29</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-07-10 10:58:20</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>