<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="159333">
 <titleInfo>
  <title>KUAT LENTUR SAMBUNGAN BALOK KOLOM TIPE ORDINARY DAN EXTENDED END PLATE TERHADAP VARIASI TATA LETAK BAUT</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>ADIS AUFA RAFIQHI</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fak. Teknik Sipil</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Sambungan end plate adalah sambungan balok-kolom yang umum digunakan dalam konstruksi baja karena kemudahan fabrikasi dan pemasangannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas penambahan baut yang mengubah sambungan ordinary end plate (OEP) menjadi extended end plate (EEP) dalam upaya meningkatkan kekuatan lentur sambungan. Pengujian dilakukan dengan memberikan beban geser pada jarak 400 mm dari titik sambungan, yang ditingkatkan secara bertahap hingga benda uji mengalami kegagalan. Pengukuran deformasi dilakukan pada tiga titik utama, yaitu pada pelat ujung, pelat sayap dan pelat badan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sambungan EEP memiliki kekuatan lentur lebih tinggi, yaitu sebesar 79,25 kNm, meningkat sebesar 8,62 % dibandingkan OEP yang hanya mencapai 72,96 kNm. Deformasi ultimit yang terjadi pada pelat ujung dan pelat sayap sambungan EEP masing-masing tercatat 28,44 % dan 55,76 % lebih kecil dibandingkan dengan OEP. Namun, deformasi ultimit pada pelat badan sambungan EEP lebih besar 43,72% dibandingkan dengan OEP. Analisis teoritis terhadap nilai kuat lentur berdasarkan SNI 1729-2020 mengahasilkan nilai yang lebih konservatif dibandingkan hasil pengujian eksperimental. Adapun mekanisme kegagalan pada sambungan OEP terjadi berupa kegagalan lentur pada pelat ujung yang disertai retak pada area perletakan sayap. Sementara itu, pada sambungan EEP, kegagalan yang terjadi berupa kegagalan lentur pada pelat ujung dan tekuk pada badan balok.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>159333</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-07-09 15:13:16</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-07-09 15:55:22</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>