<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="159253">
 <titleInfo>
  <title>EVALUASI KESESUAIAN LAHAN DAN PENENTUAN LUAS LAHAN  OPTIMAL PADA USAHATANI JAGUNG KECAMATAN KUTA MAKMUR KABUPATEN ACEH UTARA</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Murdani</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>prog. studi magister pertanian</publisher>
   <dateIssued>2004</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Theses</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Pemerintah telah  menetapkan beberapa  program  intensifikasi peningkatan  produksi jagung  seperti: supra insus, intensifikasi  khusus  dan intensifikasi umum. Namun   Program  pemerintah tersebut  belumlah   mengacu   kearah  yang  sesuai dengan tingkat kesesuaian lahan, artinya paket teknologi yang terkandung didalam program-program tersebut adalah  relatif sama antara  satu  daerah  dengan  daerah yang  lain, walaupun setiap  daerah mungkain  saja mempunyai tingkat kesesuaian lahan yang berbeda,  ditambah  lagi dengan tingkat implementasi di lapangan yaitu setiap petani  dalam memberikan sejumlah faktor  produksi  pada  lahannya  dengan dosis  serta alokasi  yang  cenderung  berlaku  sama terlepas dari kelas  kesesuaian lahannya  sama atau  berbeda,   padahal jumlah  yang  seharusnya diberikan  untuk setiap  kelas  kesesuain  lahan  dan  bagaimana alokasinya untuk  mencapai  tingkat kombinasi   yang   optimal   akan   sangat   tergantung   kepada   kelas   kesesuaian lahannya.&#13;
          Pelaksanaan    penelitian  ini  dilaksanakan  atas  dasar  kepada  kenyataan  bahwa alokasi faktor-faktor produksi pada usahatanijagung yang dilakukan petani cenderung  sama walaupun  lokasi  usahatani  yang mereka  kelola   terdapat pada kelas kesesuaian lahan yang berbeda-beda.&#13;
          Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey, baik dalam pengumpulan data kualitas dan karakteristik  lahan yang digunakan untuk: mengevaluasi kelas kesesuaian  lahan maupun  dalam pengambilan data produksi, penggunaan faktor-faktor produksi beserta harga-harganya.&#13;
          Tujuan penelitian  adalah untuk mengetahui kelas kesesuaian lahan  untuk tanaman jagung dan efesiensi penggunaan faktor-faktor produksi serta luas lahan optimal untuk usahatani jagung pada masing-masing kelas kesesuaian lahan.&#13;
          Hasil penelitian memperlihatkan bahwa dari 23 211 ha areal yang diteliti, ternyata  22 639 (97.5%), kelas kesesuaian lahannya adalah  S, (kurang sesuai), sedangkan  sisanya seluas 572 ha (2,5%) termasuk kedalam kelas NI  (tidak sesuai untuk saat ini).&#13;
          Dimasa  mendatang bila  ada  perbaikan teknologi khususnya  pengapuran  dan pemupukan, maka  areal  SPL  1  sampai dengan  SPL 8 dan  SPL 10 sampai  dengan  SPL16 kelas  kesesuaian lahannya  dapat  ditingkatkan dari kurang  sesuai (Sa) menjadi sesuai  (S»), tetapi  sebaliknya areal  yang  termasuk kedalam  SPL 9 kesesuaian  lahannya tidak    dapat  ditingkatkan lagi    karena dibatasi  oleh  faktor pembatas tekstur.&#13;
          Berdasarkan model  fungsi  produksi  jagung yang  digunakan  yaitu  model fungsi produksi  Cobb Douglass.   Berdasarkan basil penelitian ini fungsi produksi Cobb Douglass  yang  diperoleh adalah: Y=0,3253,7,3'x,23,013x,,e&#13;
          Faktor-faktor produksi yang dimaksukkan kedalam model yaitu luas lahan (X),  jumlah benih  (X), jumlah  urea  (X),  jumlah  SP-¢  (X2), jumlah  KCI  (X9), dan jumlah tenaga kerja (Ks).&#13;
          Secara serempak factor-faktor produksi  tersebut sangat  nyata pengruhnya  terhadap tingkat produksi jagung,  ini terlihat dari nilai F hitung  dan R yang  sangat  tinggi.  Namun  sebaliknya   bila  dilihat  secara  parsial   pengaruh   masing-masing  variabel bebas terhadap tingkat  produksi jagung,  yaitu  variabel luas lahan, jumlah benih   dan  jumlah  area   yang   pengaruhnya  signifikan  terhadap  peningkatan produksi,  sedangkan  variabel  SP53«, KCI  dan tenaga kerja mempunyai pengaruh yang tidak signifikan.  &#13;
          Secara  parsial   semua  tingkat penggunaan   faktor  produksi berada  pada daerah yang rasional  (daerah II), yaitu  daerah  dimana terjadinya kenaikan output</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>CORN</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>LAND USE - AGRICULTURAL SURVEYS</topic>
 </subject>
 <classification>631.47</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>159253</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-07-09 12:05:37</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-08-14 11:33:44</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>