<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="158681">
 <titleInfo>
  <title>BIOPROSPEKSI AKTINOBAKTERI TANAH ASAL STASIUN PENELITIAN SORAYA KAWASAN EKOSISTEM LEUSER SEBAGAI LARVASIDA NYAMUK AEDES AEGYPTI</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>HURUL NAFISA</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas MIPA Biologi</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang ditransmisikan oleh nyamuk Aedes aegypti masih menjadi permasalahan serius di Indonesia. Salah satu upaya untuk memutus rantai penyebaran DBD yaitu dengan menggunakan mikroorganisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi aktinobakteri tanah asal Stasiun Penelitian Soraya dalam membunuh larva nyamuk Aedes aegypti. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Isolat yang digunakan merupakan aktinobakteri tanah asal Stasiun Penelitian Soraya yaitu ATS 4, ATS 7, ATS 10, ATS 11, ATS 12, ATS 13, dan ATS 15 dengan volume inokulum 1,5 mL. Parameter yang diukur yaitu jumlah larva yang mati, jumlah larva yang mampu berubah menjadi pupa, dan morfologi larva sebelum dan sesudah perlakuan. Hasil analisis varian (ANOVA) menunjukkan bahwa ATS 11 memiliki kemampuan tertinggi yang menyebabkan kematian larva dengan rata-rata terbesar yaitu 27,00 ± 3,00 individu, dan  ATS 15 memiliki kemampuan terendah yang menyebabkan kematian larva dengan nilai rata-rata yaitu 9,33 ± 1,52 individu. Sedangkan, isolat ATS 15 memiliki nilai tertinggi yang mampu menyebabkan larva berubah menjadi pupa dan ATS 11 memiliki nilai paling sedikit. Morfologi larva sesudah perlakuan terlihat berubah menjadi transparan serta saluran pencernaan yang terputus-putus.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>158681</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-07-07 10:44:27</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-07-07 11:10:32</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>