<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="158109">
 <titleInfo>
  <title>ANALISIS YURIDIS PERALIHAN HAK ATAS TANAH YANG MASIH DALAM STATUS HARTA WARISAN</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Khairunnisa</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>hukum kenotariatan</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Theses</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Peralihan hak atas tanah warisan di Indonesia sering menimbulkan sengketa, &#13;
terutama jika dilakukan secara sepihak tanpa persetujuan dari seluruh pihak yang &#13;
berhak. Meskipun hukum waris telah diatur melalui berbagai sistem seperti hukum &#13;
perdata, adat, dan Islam, serta didukung oleh ketentuan pertanahan seperti pada pasal &#13;
19 ayat (1) Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan pada Pasal 42 ayat (1) &#13;
Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah, praktik di &#13;
lapangan masih sering menyimpang dari ketentuan hukum. Salah satunya adalah &#13;
pendaftaran tanah warisan secara sepihak tanpa akta pembagian hak dari PPAT, yang &#13;
kemudian diterbitkan menjadi sertifikat hak milik. &#13;
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keabsahan sertifikat peralihan &#13;
hak atas tanah warisan yang didaftarkan secara sepihak, serta mengkaji bentuk &#13;
penyelesaian sengketa dan perlindungan hukum bagi pihak yang dirugikan. &#13;
Metode yang digunakan adalah metode yuridis normatif, dengan mengkaji &#13;
bahan hukum primer berupa peraturan perundang-undangan dan putusan pengadilan, &#13;
serta bahan hukum sekunder seperti literatur hukum, doktrin, teori hukum, dan asas&#13;
asas hukum yang relevan. &#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sengketa akibat peralihan hak atas tanah &#13;
warisan yang dilakukan secara sepihak dapat diselesaikan melalui jalur litigasi &#13;
maupun non-litigasi. Jalur litigasi ditempuh dengan mengajukan gugatan perdata ke &#13;
pengadilan, sebagaimana yang dilakukan dalam perkara Putusan Mahkamah &#13;
Syar’iyah Blangpidie Nomor 77/Pdt.G/2021/MS.Bpd, di mana penggugat berhasil &#13;
membuktikan adanya perbuatan melawan hukum. Selain itu, bentuk perlindungan &#13;
hukum terhadap penggugat meliputi pemulihan hak atas tanah warisan, penghapusan &#13;
atau pembatalan sertifikat di Kantor Pertanahan, serta pengakuan kembali hak waris &#13;
yang sah. Adapun jalur non-litigasi melalui mediasi keluarga atau di bawah fasilitasi &#13;
pengadilan juga diakui sebagai sarana penyelesaian yang mengedepankan &#13;
musyawarah, sepanjang seluruh pihak beritikad baik untuk mencari penyelesaian &#13;
damai. &#13;
Disarankan Perlu regulasi teknis yang tegas melarang pendaftaran tanah &#13;
warisan yang belum dibagi untuk menutup celah hukum. Optimalisasi penyelesaian &#13;
sengketa non-litigasi seperti mediasi keluarga penting agar musyawarah dan keadilan &#13;
terwujud. Perlu pedoman khusus di peradilan untuk mengedepankan keadilan dalam &#13;
perkara waris, bukan hanya formalitas.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>158109</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-07-02 11:18:54</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-07-02 11:33:52</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>