Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
ANALISIS BUAI DALAM KONTEKS MALLAULU PERNIKAHAN PADA KEHIDUPAN MASYARAKAT DI DESA SUAK BARU, KABUPATEN SIMEULUE
Pengarang
TRIA RAMADANI - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Mukhsin Putra Hafid - 197607022006041001 - Dosen Pembimbing I
Samsuri - 198902062015012101 - Dosen Pembimbing II
Cut Zuriana - 197801142006042002 - Penguji
Tengku Hartati - 197108122006042001 - Penguji
Nomor Pokok Mahasiswa
2106102030071
Fakultas & Prodi
Fakultas KIP / Pendidikan Seni Drama, Tari dan Musik (S1) / PDDIKTI : 88209
Subject
Kata Kunci
Penerbit
Banda Aceh : Fakultas KIP., 2025
Bahasa
No Classification
-
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
ABSTRAK
Tria Ramadani (2025). Analisis Buai dalam Konteks Mallaulu Pernikahan pada
Kehidupan Masyarakat di Desa Suak Baru Kabupaten Simeulue. [Skripsi.
Universitas Syiah Kuala]. Dibimbing oleh Dr.Sn. Mukhsin Putra Hafid, S.Sn., M.A.
dan Samsuri, S.Pd., M.Ed.
Buai merupakan tradisi masyarakat Simeulue yang hanya diwariskan secara turuntemurun
khususnya bagi kaum perempuan saja. Seiring berjalannya waktu dan
rendahnya pemahaman dan minimnya minat perempuan terhadap tradisi buai
merupakan fenomena yang ditemui di lapangan. Hal ini di khawatirkan tergerus
oleh waktu dan bahkan hilang padahal tradisi ini sarat dengan pesan-pesan
kehidupan yang menjadi pedoman hidup. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis teks dan konteksnya kususnya dalam acara mallaulu pernikahan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik
pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Lokasi penelitian berada di Desa Suak Baru, Kecamatan Simeulue Tengah,
Kabupaten Simeulue. Informan dalam penelitian ini berjumlah 11 orang, terdiri atas
3 pelaku Buai, 2 Tuha Gampong, 2 pemilik hajatan, 1 kepala desa, 1 tokoh adat, 1
perwakilan muda-mudi, dan 1 perwakilan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara teks pelafalan buaian disajikan dengan
model cengkok mendayu-dayu disesuaikan dengan irama atau Panjang pendeknya
syair dalam penuturan dan yang khas dalam estetika rasanya karena disajikan oleh
Perempuan yang faktanya dia yang merasakan akan bagaimana melahirkan anak,
mendidik hingga membesarkan anak. Adapun dalam konteks pertunjukan buai
dilaksanakan melalui tiga tahapan, yaitu tahap persiapan yang terdiri dari duduk
pakat, pemanggilan pelaku buai, dan manuruy laulu. Selanjutnya pementasan, yaitu
pada saat pertunjukan buai disajikan, terahir pasca-pementasan, yaitu evaluasi atau
bersih-bersih yang dilakukan oleh pihak keluarga yang mengadakan hajatan.
Penelitian ini merekomendasikan agar pemerintah, tokoh masyarakat, serta seluruh
elemen masyarakat desa berperan aktif dalam Upaya pengembangan dan
pelestarian tradisi buai, mengingat semakin berkurangnya generasi yang
memahami dan menguasai tradisi tersebut. Langkah ini diperlukan agar
keberlangsunan tradisi buai tetap terjaga di tengah perubahan zaman.
Kata Kunci: Analisis Teks dan Konteks, Traidis Buai
ABSTRACT Tria Ramadani (2025). An Analysis of Buai in the Context of Mallaulu Wedding Ceremony in the Community Life of Suak Baru Village, Simeulue Regency. [Thesis. Universitas Syiah Kuala]. Supervised by Dr. Sn. Mukhsin Putra Hafid, S.Sn., M.A. and Samsuri, S.Pd., M.Ed. Buai is a traditional practice of the Simeulue community that has been passed down exclusively through generations of women. Over time, however, there has been a noticeable decline in both understanding and interest among women regarding the buai tradition. This phenomenon poses a threat to the continuity of the tradition, which is rich with life lessons and values that serve as a guide for living. This study aims to analyze the text and context of the buai tradition, particularly within the mallaulu wedding ceremony. A qualitative approach with a descriptive method was employed in this research. Data were collected through observation, interviews, and documentation. The research took place in Suak Baru Village, Simeulue Tengah Sub-district, Simeulue Regency. A total of 11 informants participated in the study, including 3 buai performers, 2 village elders (Tuha Gampong), 2 hosts of wedding events, 1 village head, 1 traditional leader, 1 youth representative, and 1 representative from the Department of Tourism and Culture. The findings reveal that in terms of text, the buai recitation is performed with a melodious and lilting intonation, adjusted to the rhyme and rhythm of the verses. It carries a unique aesthetic, as it is delivered by women who themselves have experienced childbirth, child-rearing, and motherhood. In terms of performance context, buai consists of three stages: the preparation stage, which includes consensus meetings (duduk pakat), selecting the performers, and inviting the laulu; the performance stage, where the buai is presented; and the post-performance stage, which involves evaluation and cleanup conducted by the host family. The study recommends that the government, community leaders, and all elements of the village community actively participate in efforts to develop and preserve the buai tradition, considering the decreasing number of younger generations who understand and practice it. Such efforts are crucial to ensuring the sustainability of the buai tradition in the face of changing times. Keywords: Text and Context Analysis of the Buai Tradition
BUAI DI LUAN SORIP KAMPUNG AIR SIMEULUE TENGAH (Irma Yulinanda, 2018)
PERAN LAULU DALAM SISTEM KEKERABATAN PADA MASYARAKAT SIMEULUE BARAT (Maswini, 2021)
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP KINERJA APARATUR DESA DALAM PENYELENGGARAAN PEMBANGUNAN DI DESA SUAK RIBEE KECAMATAN JOHAN PAHLAWAN (Siti Kurniati, 2017)
TURIS ASING DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL MASYARAKAT SIMEULUE (STUDI DI DESA MAUDIL KECAMATAN TEUPAH BARAT) (Romi Fandayani, 2017)
PERANAN GURU DALAM MEMBIMBING SISWA YANG MELAKUKAN PERILAKU BULLYING DI SD NEGERI 3 SUAK LAMATAN KABUPATEN SIMEULUE. (Lauhil maulindah, 2023)