KAJIAN ESTIMASI KERUGIAN MAKSIMUM BANGUNAN AKIBAT TSUNAMI DI PROVINSI ACEH BERDASARKAN METODE PROBABILISTIK | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    THESES

KAJIAN ESTIMASI KERUGIAN MAKSIMUM BANGUNAN AKIBAT TSUNAMI DI PROVINSI ACEH BERDASARKAN METODE PROBABILISTIK


Pengarang

Hayyan Ghifary Armaya - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Syamsidik - 197502251999031001 - Dosen Pembimbing I
Muhammad Fauzi - 197006271999031005 - Dosen Pembimbing I



Nomor Pokok Mahasiswa

2304201010006

Fakultas & Prodi

Fakultas Teknik / Teknik Sipil (S2) / PDDIKTI : 22101

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Prog. Studi Magister Teknik Sipil., 2025

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Provinsi Aceh yang berada di zona sesar aktif memiliki potensi terjadinya kembali gempa bumi besar yang dapat memicu tsunami. Identifikasi potensi kerusakan bangunan serta estimasi kerugian akibat tsunami di masa mendatang menjadi dasar penting dilakukannya penelitian ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji potensi kerapuhan bangunan dan estimasi kerugian maksimum secara probabilistik di Provinsi Aceh, dengan klasifikasi bangunan berdasarkan Global Earthquake Model (GEM), yaitu beton bertulang, bangunan tembokan bertulang minim, kayu, dan baja. Simulasi tinggi gelombang tsunami dilakukan menggunakan model numerik COMCOT. Analisis kerapuhan bangunan menggunakan pendekatan tsunami fragility berdasarkan survei bangunan di tujuh kabupaten/kota. Estimasi kerugian dihitung menggunakan metode Probable Maximum Loss (PML) dan Average Annual Loss (AAL). Penelitian ini berhasil mengidentifikasi 439.130 bangunan di Provinsi Aceh, dengan 137.588 bangunan berpotensi rusak akibat tsunami setinggi 18,3 meter pada skenario gempa 9,2 Mw. Estimasi total kerugian pada periode ulang 250 tahun mencapai Rp26,89 triliun, dengan rata-rata kerugian tahunan sebesar Rp315,9 miliar. Sementara itu, kapasitas anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) Pemerintah Aceh rata-rata hanya sebesar Rp61,7 miliar per tahun, sehingga beban pembiayaan bencana mencapai lima kali lipat dari kemampuan anggaran daerah. Kondisi ini menjadi tantangan serius dalam proses pemulihan dan rekonstruksi pascabencana secara mandiri. Penelitian ini bermanfaat sebagai dasar perencanaan mitigasi bencana berbasis risiko dalam merumuskan kebijakan penanggulangan bencana yang lebih efektif, serta penyusunan strategi pembiayaan yang berkelanjutan dalam menghadapi potensi tsunami di masa depan.

Aceh Province, located in an active fault zone, is at high risk of experiencing future major earthquakes that may trigger tsunamis. Identifying the potential for building damage and estimating future tsunami-related losses are essential for this study. This research aims to assess building fragility and estimate the maximum probable loss in Aceh Province using a probabilistic approach. Building classifications follow the Global Earthquake Model (GEM), which includes reinforced concrete, confined masonry, wood, and steel structures. Tsunami wave heights were simulated using the COMCOT numerical model. Building fragility analysis was conducted using a tsunami fragility approach based on surveys in seven districts. Loss estimations were calculated using the Probable Maximum Loss (PML) and Average Annual Loss (AAL) methods. The study identified 439,130 buildings in Aceh, of which 137,588 are at risk of damage in a tsunami scenario with a wave height of 18.3 meters triggered by a magnitude 9.2 Mw earthquake. The estimated total loss for a 250-year return period is IDR 26.89 trillion, with an average annual loss of IDR 315.9 billion. Meanwhile, the average annual budget allocation for Disaster Contingency Funds (Belanja Tidak Terduga/BTT) in Aceh is only IDR 61.7 billion, meaning that the financial burden of disaster response is five times higher than the region’s available funding capacity. This creates a significant challenge for the government in independently managing post-disaster recovery and reconstruction. This study provides a valuable basis for risk-based disaster mitigation planning, supports the formulation of more effective disaster management policies, and contributes to developing sustainable financing strategies to address future tsunami risks.

Citation



    SERVICES DESK