Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
THESES
KINERJA VENTILASI ALAMI TERHADAP KENYAMANAN TERMAL PADA BANGUNAN KOLONIAL DAN KONTEMPORER (STUDI KASUS: SMPN 1 LHOKSEUMAWE)
Pengarang
Cut Nuzula Rahmah - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Abdul Munir - 197207081998021001 - Dosen Pembimbing I
Mirza Fuady - 197002242008121002 - Dosen Pembimbing II
Nomor Pokok Mahasiswa
2304204010018
Fakultas & Prodi
Fakultas Teknik / Arsitektur / PDDIKTI :
Kata Kunci
Penerbit
Banda Aceh : Fakultas Teknik (S2)., 2025
Bahasa
Indonesia
No Classification
697.92
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Kenyamanan termal dalam ruang belajar berperan penting dalam mendukung konsentrasi dan produktivitas siswa terutama di wilayah tropis lembab seperti Kota Lhokseumawe. Wilayah ini ditandai oleh suhu udara dan kelembaban relatif tinggi, radiasi matahari intensif serta kecepatan angin rendah. Kondisi ini menjadi tantangan dalam menciptakan kenyamanan termal tanpa bergantung pada sistem pendingin buatan. Ventilasi alami merupakan strategi pasif yang banyak diterapkan namun efektivitasnya sangat bergantung pada karakter bangunan dan kondisi mikroklimat setempat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat kenyamanan termal dan kinerja ventilasi alami pada dua tipologi bangunan di SMPN 1 Lhokseumawe yaitu bangunan kolonial dan bangunan kontemporer. Kedua bangunan memiliki karakteristik desain dan sistem ventilasi yang berbeda dalam lingkungan yang sama. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif melalui pengukuran parameter lingkungan yang didukung oleh survei persepsi pengguna. Analisis penilaian dilakukan menggunakan model Predicted Mean Vote (PMV) dan Adaptive Thermal Comfort (ATC) serta Air Changes per Hour (ACH) serta diolah menggunakan software CBE Thermal Comfort Tool. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ruang kelas kolonial memperoleh nilai PMV lebih rendah dibandingkan bangunan kontemporer. Berdasarkan model ATC rentang suhu yang dapat diterima pengguna berada pada 22,9°C hingga 29,9°C dengan tingkat penerimaan sebesar 54% pada bangunan kolonial dan 68% pada bangunan kontemporer. Terkait kinerja ventilasi, bangunan kolonial juga menunjukkan performa yang lebih baik dengan nilai ACH sebesar 11 kali perjam sedangkan bangunan kontemporer 9 kali perjam. Kedua bangunan memenuhi standar SNI 03-6572-2001 namun belum mampu menciptakan kondisi termal yang optimal akibat kurangnya kontrol terhadap kualitas dan distribusi udara yang masuk ke dalam bangunan. Penelitian ini menegaskan bahwa efektivitas ventilasi alami tidak hanya ditentukan oleh laju pertukaran udara tetapi juga oleh perbedaan suhu dan distribusi udara di dalam ruang. Temuan ini memberikan landasan terhadap pengembangan strategi desain bangunan yang adaptif terhadap iklim tropis lembab dengan penguatan system ventilasi ganda, penambahan buffer zone dan penentuan orientasi bukaan yang sesuai untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih sehat dan nyaman secara termal.
Kata kunci: Ventilasi Alami, Kenyamanan termal, Bangunan Kolonial, Bangunan Kontemporer, Lhokseumawe.
Thermal comfort is a crucial factor in learning environment directly influencing the students' concentration and productivity, especially in humid tropical regions such as Lhokseumawe. The city has high temperature and relative humidity, intense solar radiation, and low wind speeds. This condition becomes a challenge in achieving thermal comfort without artificial cooling systems. Natural ventilation is a widely adopted passive strategy but its effectiveness highly depends on the character of the building and local microclimate conditions. This study aims to evaluate thermal comfort and analyzes natural ventilation performance in two building typologies at SMPN 1 Lhokseumawe; colonial and contemporary buildings. This research adopts a quantitative approach, involving direct measurements and user thermal comfort perception. Data analysis was carried out using the Predicted Mean Vote (PMV) and Adaptive Thermal Comfort (ATC) models and Air Changes per Hour (ACH) and processed using CBE Thermal Comfort Tool software. The results showed that colonial classrooms obtained lower PMV values than contemporary buildings. According to the ATC model, the acceptable temperature range for users is 22.9°C to 29.9°C with an acceptance rates of 54% in colonial buildings and 68% in contemporary buildings. Regarding ventilation performance, the colonial building also shows better performance with an ACH value of 11 times per hour while the contemporary building is 9 times per hour. Both buildings meet the SNI 03-6572-2001 standar but have not been able to create optimal thermal conditions due to lack of control over the quality and distribution of air entering the building. This research highlights that the effectiveness of natural ventilation is not only determined by the amount of air exchange, but also the quality of air distribution in the space. The findings provide a foundation for the development of building design strategies for humid tropical regions, emphasizing the integration of dual ventilation systems, the addition of buffer zones, and the proper orientation of openings to create healthier and thermally comfortable learning environments. Keywords: Natural Ventilation, Thermal Comfort, Colonial Building, Contemporary Building, Lhokseumawe
KAJIAN SISTEM VENTILASI ALAMI SEBAGAI PASSIVE DESIGN STRATEGY DI ACEH ISLAMIC NATURE SCHOOL (ACI ASTRIANA, 2025)
KINERJA SISTEM VENTILASI ALAMI PADA MASJID TUHA ULEE KARENG (NATASYA ZAHIRA SHOFA, 2025)
KINERJA SISTEM VENTILASI ALAMI TERHADAP KENYAMANAN TERMAL PADA MASJID VERNAKULAR (STUDI KASUS : MASJID TUHA INDRAPURI) (Ghina Amira, 2025)
IDENTIFIKASI KENYAMANAN TERMAL PADA BANGUNAN KOMERSIL (STUDI KASUS : WEDRINK ULEE LHEUE, BANDA ACEH) (ALFA ULIMI, 2025)
PENGARUH ORIENTASI BANGUNAN TERHADAP KINERJA TERMAL PADA PERUMAHAN PALAPA VILLAGE LHOKSEUMAWE, ACEH (Rifar Manani, 2026)