<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="156697">
 <titleInfo>
  <title>PERBANDINGAN TIPOLOGI RUMAH TINGGAL KOLONIAL DI DAERAH PESISIR DAN PEGUNUNGAN ACEH STUDI KASUS :</title>
  <subTitle>KOTA BANDA ACEH DAN KAWASAN PERKOTAAN TAKENGON</subTitle>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Lisa Maharani</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Teknik (S2)</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Theses</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Rumah tinggal kolonial merupakan bangunan yang dibangun untuk bangsa Belanda saat melakukan pendudukan, berfungsi sebagai tempat tinggal dan juga perwujudan jati diri pemiliknya. Salah satu daerah yang pernah diduduki bangsa Belanda adalah Kota Banda Aceh sebagai daerah pesisir dan Kawasan Perkotaan Takengon sebagai daerah pegunungan di Aceh. Kedua daerah ini selain memiliki kondisi geografis yang berbeda juga memiliki perbedaan cuaca lokal dan budaya yang secara tidak langsung ikut mempengaruhi rumah tinggal kolonial yang dibangun. Namun demikian, informasi mengenai persamaan dan perbedaan rumah tinggal kolonial yang tersedia di kedua daerah sangat terbatas. Hal ini mengindikasikan kurangnya apresiasi masyarakat maupun pemerintah terhadap rumah tinggal kolonial itu sendiri. Oleh karenanya perlu dibangun kembali informasi dan pengetahuan terkait persamaan dan perbedaan rumah tinggal kolonial Belanda di daerah pesisir dan pegunungan agar tetap memiliki eksistensi dalam masyarakat maupun pemerintah. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan tipologi rumah tinggal kolonial Belanda di Kota Banda Aceh dan Kawasan Perkotaan Takengon serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan tipologi. Hasil penelitian menunjukkan ditemukan persamaan dan perbedaan rumah tinggal kolonial di kedua daerah pada tipologi denah, fasad dan tapak. Persamaan terdapat pada jenis-jenis ruang, hubungan antar ruang, bentuk atap, pintu, jendela, ventilasi, bouvenlight, sun shading, ornamen, komposisi bangunan, dan arah bangunan. Adapun perbedaan terdapat pada material, kuantitas ventilasi, desain bangunan, variasi denah dan variasi sun shading. Faktor-faktor persamaan dan perbedaan yang mempengaruhi terdiri dari faktor sosial-budaya, faktor cuaca lokal, faktor material, faktor teknologi dan konstruksi, serta faktor lahan.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>DWELLINGS - ARCHITECTURE</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>RESIDENTIAL BUILDING</topic>
 </subject>
 <classification>728</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>156697</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-05-31 12:11:24</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-06-02 09:36:13</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>