FENOMENA MONEY POLITIK DALAM PEMILIHAN REJE KAMPUNG (KEPALA DESA) RN(STUDI KASUS KAMPUNG KUALA II KECAMATAN BINTANG KABUPATEN ACEH TENGAH) | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

FENOMENA MONEY POLITIK DALAM PEMILIHAN REJE KAMPUNG (KEPALA DESA) RN(STUDI KASUS KAMPUNG KUALA II KECAMATAN BINTANG KABUPATEN ACEH TENGAH)


Pengarang

HAZDI SYAH PUTRA - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Annisah Putri - 199208232022032009 - Dosen Pembimbing I



Nomor Pokok Mahasiswa

2110103010003

Fakultas & Prodi

Fakultas Ilmu Sosial dan Politik / Ilmu Politik (S1) / PDDIKTI : 67201

Penerbit

Banda Aceh : FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SYIAH KUALA., 2025

Bahasa

Indonesia

No Classification

324

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

ABSTRAK
Pemilihan Reje Kampung sebagai bentuk demokrasi langsung di tingkat
Kampung kerap dipengaruhi oleh praktik politik uang dan hubungan kekerabatan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dampak politik uang dalam
pemilihan Reje Kampung di Kampung Kuala II, Kecamatan Bintang, Kabupaten
Aceh Tengah, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap
maraknya praktik tersebut. Dalam penelitian ini, digunakan metode kualitatif
dengan pendekatan studi kasus, yang melibatkan wawancara mendalam dengan
berbagai narasumber, termasuk tokoh masyarakat, akademisi, dan warga setempat.
Analisis data dilakukan berdasarkan teori politik uang (Edward Aspinall) dan
konsep politik kekerabatan (Edward Aspinall & Ward Berenschot). Teori politik
uang menyatakan bahwa transaksi antara kandidat dan pemilih, di mana suara
diberikan sebagai imbalan atas manfaat materi, menjadi penyebab utama terjadinya
praktik ini. Akibatnya, prinsip demokrasi menjadi terdistorsi. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa masyarakat di Kampung Kuala II cenderung memilih calon
bukan berdasarkan kompetensi dan visi mereka, melainkan atas dasar pemberian
uang atau barang. Di sisi lain, teori politik kekerabatan menyoroti peran hubungan
keluarga dan jaringan sosial dalam menentukan hasil pemilihan, khususnya di
tingkat lokal. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa pengaruh politik
kekerabatan di Kampung Kuala II masih sangat dominan. Kandidat yang memiliki
jaringan keluarga luas memiliki kemungkinan lebih besar untuk memenangkan
pemilihan. Hal ini menyebabkan proses pemilihan lebih ditentukan oleh faktor
kekerabatan dibandingkan dengan kualitas kepemimpinan, yang pada akhirnya
berdampak pada efektivitas pemerintahan desa. Penelitian ini menunjukkan bahwa
politik uang dan kekerabatan dalam pemilihan Reje Kampung memiliki dampak
negatif terhadap tata kelola pemerintahan Kampung. Dampak tersebut mencakup
terpilihnya pemimpin yang kurang kompeten, meningkatnya risiko korupsi dalam
pemerintahan kampung, serta menurunnya partisipasi masyarakat dalam
mengawasi jalannya pemerintahan. Selain itu, fenomena ini turut memperkuat
budaya politik pragmatis yang merusak nilai-nilai demokrasi di tingkat lokal.
Sebagai solusi, penelitian ini merekomendasikan peningkatan kesadaran
masyarakat melalui pendidikan politik yang lebih komprehensif, penerapan hukum
yang lebih tegas terhadap praktik politik uang, serta pengawasan yang lebih ketat
dari lembaga terkait guna mewujudkan pemilihan yang lebih transparan, adil, dan
demokratis.
Kata Kunci: politik uang, pemilihan kepala desa, demokrasi lokal, politik
kekerabatan, Aceh Tengah.

ABSTRACT The election of Reje Kampung as a form of direct democracy at the village level is often influenced by money politics and kinship relations. This study aims to explore the impact of money politics in the election of Reje Kampung in Kampung Kuala II, Bintang District, Central Aceh Regency, and to identify the factors contributing to the prevalence of this practice. This research employs a qualitative method with a case study approach, involving in-depth interviews with various informants, including community leaders, academics, and local residents. Data analysis is based on the theory of money politics (Edward Aspinall) and the concept of kinship politics (Edward Aspinall & Ward Berenschot). The theory of money politics states that transactions between candidates and voters, where votes are exchanged for material benefits, are the primary cause of this practice. As a result, the principles of democracy become distorted. The findings indicate that the people of Kampung Kuala II tend to choose candidates not based on their competence and vision but rather on the provision of money or goods. On the other hand, the kinship politics theory highlights the role of family relations and social networks in determining election outcomes, particularly at the local level. The study reveals that kinship politics remains highly dominant in Kampung Kuala II. Candidates with extensive family networks have a greater chance of winning the election. This situation results in the election process being influenced more by kinship factors than by leadership quality, ultimately affecting the effectiveness of village governance. This study demonstrates that money politics and kinship in the election of Reje Kampung have a negative impact on village governance. These effects include the election of incompetent leaders, an increased risk of corruption within village administration, and a decline in community participation in government oversight. Furthermore, this phenomenon strengthens a pragmatic political culture that undermines the core values of local democracy. As a solution, this research recommends raising public awareness through more comprehensive political education, stricter enforcement of laws against money politics, and tighter oversight by relevant institutions to ensure a more transparent, fair, and democratic election process. Keywords: money politics, village head election, local democracy, kinship politics, Central Aceh.

Citation



    SERVICES DESK